Halaman

Minggu, 05 Mei 2013

Jakarta dan Amsterdam, Serupa tapi ‘tak Sama

Ada apa sebenarnya antara Jakarta dan Amsterdam? Percaya atau tidak, ternyata dua kota yang terpisah sejauh 11.377 km ini memiliki banyak persamaan, lho… Tapi entah mengapa, hasilnya jauh berbeda…

Sama-sama di Bawah Permukaan Laut

“Tuhan menciptakan seluruh muka bumi kecuali Belanda. Karena Belanda diciptakan oleh orang Belanda sendiri” – Pepatah Belanda


Fakta bahwa Jakarta dan Amsterdam lebih rendah posisinya dari permukaan laut dianggap sebagai ‘kenyataan pahit’, terutama saat musim hujan ataupun kala air laut pasang/ rob terjadi. 
Makanya, jangan heran saat melihat parahnya banjir yang melanda Jakarta di awal tahun ini...



Banjir Jakarta 27 Januari 2013. Tidak ada kawasan yang luput…termasuk pusat kota Jakarta, Bundaran HI
Bagaimanapun juga, muncul pertanyaan di benak saya, 

“Mengapa hal ini ngga terjadi di Amsterdam, ya?”


Kamis, 18 April 2013

360: PEMBUNUH SENYAP

Tidak banyak testimoni saya mengenai penggarapan topik “Pembunuh Senyap”, yang tidak lain adalah penyakit jantung dan stroke. Mungkin dua kata bisa mewakili perasaan tim kami yang menggarapnya: terkejut dan ketakutan. Mengapa? Karena pola hidup wartawan sangat memungkinkan kami menjadi korban selanjutnya dari 2 penyakit ini – doyan kerja lebur, kurang olahraga, makan ngga teratur, doyan ngemil yang berpengawet, dan.....rokok. Menggarap topik ini, terutama di proses transkrip dan editing, membuat hati rada ngga tenang, hehehehe....

Mungkin perasaan kami mewakili banyak orang di negeri yang masih rendah kesadarannya akan pola hidup sehat. Menurut dokter jantung, stroke, dan psikoloh yang menjadi narasumber dalam topik ini, masyarakat Indonesia kesadaran sehatnya itu baru muncul kalau sudah sakit. Jadi kalau belum jatuh sakit, terhitung kategori “baik2 saja”. Itu juga mungkin yang jadi penyebab banyak orang di masyarakat kita yang belum sadar pentingnya punya asuransi kesehatan...

Well..yahh...semoga beberapa potong wawancara kami dengan salah satu narasumber – Dr. Idris Idham, spesialis jantung di Harapan Kita – menimbulkan kesadaran kita bahwa memang lebih baik mencegah daripada mengobati....:)


360: ANAK DAN TEHNOLOGI



Gavin -- salah satu anak yang saya kenal -- sangat akrab dengan gadget

Penggarapan ide “Anak dan Tehnologi” muncul dari produser saya di acara 360. Jujur saja, awalnya ngga terlalu tertarik. Memangnya ada apa dengan anak2 yang sekarang bisa mengoperasikan smartphone dan buka internet? Toh...anak2 sekarang emang generasi gadget – mereka melek tehnologi. (Jadi ingat klo dulu pas masih kecil, saya masih main masak2an, barbie, atau ‘olahraga’ lapangan seperti main lompat karet dan benteng...)

Tapi saat fokus topik ini dibawa ke ranah narkoba dan pornografi...jujur...kaget banget. Betapa anak2 sudah dirusak dengan penyalahgunaan fasilitas internet. Sebelumnya, saya ngga pernah membayangkan anak2 mengenal transaksi narkoba via internet...dan ngga pernah terpikir bahwa pengetahuan seks anak SD sudah sangat update ‘berkat’ internet. Pertanyaannya, siapa yang memberitahu mereka tentang keberadaan situs2 tersebut?

Awalnya orang tua membekali blackberry atau smartphone ke anak2 mereka untuk memudahkan komunikasi, tanya PR ke teman, minta antar-jemput sekolah, dll. Fenomena model gini emang lebih banyak terjadi di kota2 besar sihhh...orang tuanya pada sibuk semua....Siapa yang sangka kalau fasilitas BBM, chat, dan sejenisnya digunakan untuk dagang narkoba??!! Dan cara yang sama digunakan untuk broadcast video porno?

Rabu, 17 April 2013

360: MR. CRACK DARI TIMUR

Sebelumnya tidak terpikir oleh saya untuk membuat liputan semacam ‘biografi’ Habibie – presiden ketiga RI. Namun saat mengerjakan acara 360 dengan topik “Dirgantara Anak Negeri”, nama Habibie muncul disana. Pencapaian industri dirgantara di negeri ini – yang pernah berkibar di era 1980-1990an -- mau tidak mau akan terhubung pada dirinya.

Sayangnya (atau untungnya), hingga last minute penggarapan topik “Dirgantara Anak Negeri “ memasuki proses editing, wawancara dengan Habibie tidak kunjung saya dapatkan. Dia memang sangat sibuk bahkan sempat sakit, sehingga jadwal wawancara yang sudah disepakati sempat batal. Akhirnya, alur cerita topik tersebut sedikit diubah. Narasumber diganti dengan anak Habibie – Ilham Habibie yang kini merintis Regio Aviasi Industry (RAI).

Wawancara dengan Habibie akhirnya tidak dipikirkan lagi – hingga telpon dari ajudan habibie datang. Habibie menyatakan bersedia di wawancara 1 minggu kemudian...

Antara senang, bingung, dan deg2an. Senang, karena akhirnya mendapatkan kesempatan langka itu. Bingung, karena topik yang kami maksud sudah finish dan siap untuk ditayangkan. Deg2an? Itu lebih karena faktor merasa khawatir, cemas, meragukan kemampuan diri, dll....kurang beralasan memang...hehehehe...



film Habibie & Ainun yang menguras air mata penonton...

Tapi – harus diakui – saat mendengar nama “Habibie”, anak2 muda saat ini tidak akan langsung menghubungkannya dengan industri pesawat ataupun posisinya sebagai presiden di awal era reformasi. Mereka hanya mengenal Habibie melalui kisah cinta di film Habibie Ainun...ngga lebih dari itu – entah karena faktor kisah yang menyentuh, atau karena Reza Rahardian dan Bunga Citra Lestari sebagai tokoh di film itu yang emang kece2=D....

Akhirnya saya bertekad untuk mem pelajarinya dengan seksama.... Apa yang membuat Habibie kembali ke Indonesia? Apa yang menyebabkan ia optimis untuk mengubah indonesia yang berjulukan negara agraris , menjadi negara yang menghasilkan produk high tech seperti pesawat terbang? Bagaimana dengan istilah “habibie anak emas Soeharto”? Bagaimana perasaannya saat IPTN terpaksa ditutup saat krisis moneter? Apa yang dia lakukan selama menjadi presiden ! tahun 5 bulan? Apa mimpinya selanjutnya?




Habibie menjalankan tugas sebagai presiden di masa transisi

Sore itu, saat wawancara dengan Habibie berlangsung, saya merasakan perasaan yang tidak banyak terjadi dengan banyak narasumber yang pernah saya temui. Agak sulit menjelaskannya dengan kata2...tetapi saya merasa “sangat diterima” untuk mewawancarai sesosok tokoh Habibie -- si penemu Teori Retakan Pesawat yang kini diadaptasi oleh seluruh penerbangan dunia dan diajarkan di berbagai universitas tehnik. Bahkan pertanyaan2 berbau kritik terhadap dirinya pribadi dan proyek yang pernah ia garap tetap dijawab.....Kau harus tau tidak banyak orang – terutama generasi orba – bersedia diwawancara dengan cara demikian

Semua hal yang membuat saya kagum bukan berarti membuat saya menjadi seorang pro Habibie dan menutup telinga terhadap pendapat yang bersebrangan. Muncul beberapa pendapat dari kalangan lainnya seperti:

Coba kamu sebutkan apa sih prestasi Habibie? Apa bedanya dia sama Megawati?


Selasa, 01 Januari 2013

Resolusi 2013: Belajar dari Koleksi Sepatu

Aku sedang membersihkan sepatu2ku dengan cairan khusus untuk kulit imitasi, saat menyadari ternyata koleksi sepatu dan high heels ku lumayan banyak juga....setidaknya sudah terlalu banyak untuk 3 rak sepatu yang dipakai untuk menampung sepatuku dan adikku. Sebagian sepatu dan high heels sudah berdebu. Nyata banget cuma jadi pajangan dan jarang dipake. Bahkan ada yang kulit imitasinya sudah terkelupas, karena terlalu lama disimpan di kotak.

Yang paling naas adalah aku masih menyimpan sendal mango hitam yang aku beli sekitar 5 tahun yang lalu, yang nyatanya ngga terpakai dalam 3 tahun terakhir karena pengait gelang kakinya yang putus. Entah apa yang membuat aku tetap setia menyimpannya disana...entah karena modelnya yang terlalu etnik, atau karena dibeliin kakak, atau karena kenangan ketemu sama gebetan pas mau ngebeli...yang jelas, terkadang cewe2 memiliki alasan irasional untuk menyimpan benda yang sudah tidak terpakai lagi:/... Seingatku, aku berjanji akan membawanya ke tukang reparasi sepatu, tapi nyatanya ngga pernah terjadi hingga detik ini.

Bukan cuma sendal, tapi juga ada sepatu wedges anyaman warna warni yang dulu jadi sepatu favoritku. Sekarang itu sepatu warnanya dah buluk banget...ngga sedap dipandang. Tapi entah kenapa, ngga tega buat dibuang...

Bukankah terkadang hidup juga demikian??? Dalam ruang2 hati kita, masih tersimpan banyak kenangan yang terkadang sulit kita lepaskan meskipun hal tersebut tidak berguna lagi. Bukan hanya tidak berguna, tetapi mungkin justru menghalangi hal lain (yang lebih baik) untuk masuk dan terjadi dalam hidup kita...sebab 'ruang' hati kita terbatas....dan kita memilih menggunakannya untuk menyimpan 'barang' lama, ketimbang untuk diisi perbendaharaan baru.

Apa saja hal tersebut? Bisa jadi rasa kehilangan orang2 terdekat, sakit hati karena diperlakukan tidak adil, hal2 yang memalukan/aib, bahkan hubungan yang gagal di masa lalu. Terkadang kita menyimpannya untuk memastikan betapa menderitanya kita, atau justru sengaja hanya mengingat bagian kenangan manis dan melupakan akhir buruknya...tetapi itu adalah bagian dari penyangkalan...yang menunjukkan kita tidak bisa menerima kenyataan pahit. Dan selama hal tersebut terus dipertahankan, maka kita tidak akan pernah mendapatkan sesuatu yang baru...

Di tahun baru ini banyak orang mencanangkan resolusi untuk setahun ke depan. Menurutku itu bagus...dan aku pun melakukannya. Dan saat aku membuat resolusi, selalu penuh dengan harapan...dan harapan itu tidak pernah lebih menurun, tetapi selalu lebih baik....karena aku percaya bahwa Tuhan selalu menyediakan rancangan masa depan yang membawa damai sejahtera dan penuh harapan (Yeremia 29:11). Tapi untuk memperolehnya, tentunya harus ada cukup ruang untuk 'menampung' harapan2 yang akan diwujudkan di dunia nyata tersebut. Dan itu ngga akan terjadi jika kita justru menggunakannya untuk mengingat segala rasa sakit, sulit menerima, gagal, amarah, dsb... Hanya akan menjadi orang yang hidup dalam kenangan masa lalu..

Mari mengharapkan hal2 baru...pekerjaan baru (mungkin...uppss...ini bukan #kode ;p ), kesempatan2 baru, hubungan yang baru, bahkan barang2 yang baru...(kenapa tidak..!!.) dan berharaplah Tuhan campur tangan dalam semuanya untuk membuatnya menjadi baik...

Jadi setelah mempertimbangkannya, aku akhirnya membuang sekitar 3 pasang sepatu dan 2 pasang sendal... Rak sepatuku sekarang agak 'lapang'....berharap segera ada barang baru untuk mengisinya...;)

Selamat menempuh 2013, guyz....

Salam,
Lori

Selasa, 04 Desember 2012

Bonus Page...^^









semuanya ini adalah makanan yang aku suka selama perjalanan liputan kali ini...^^... sayangnya ngga bisa dideskripsikan, karena sampe lupa tepatnya dibeli di rumah makan mana...(_ _)

Minggu, 02 Desember 2012

Yordania: Pelajaran dari Petra



"Haji memashite...", seorang gadis kecil gipsy menyapaku dalam bahasa Jepang. Hehehehe…memangnya mukaku mirip orang Jepang??!!! Sambil menahan geli, aku akhirnya hanya tersenyum sembari menjawab,
"I'm not japanese...I'm indonesian"
seakan tidak menggubris jawabanku, dia lalu berkata,
"Do you like this stone? Take it, ma'am...I give it to you..", sembari memberikanku sebuah batu berwarna. Ngga berhenti disitu, si gadis melanjutkan,
How about jewelry, maám? I give you only 1JD..”
tawar-menawar sewa keledai dengan bocah gipsy
Dyuhhh….sudah kuduga akan berujung kesana…(‘_’!)

Hari ini aku, Yudi, dan Timmy mengunjungi Petra -- salah satu kota tua peninggalan suku Nabatean yang adalah penyembah berhala. Namun terlihat memang ada jejak kejayaan kerajaan Romawi disana saat menaklukkan wilayah ini di era 106M – terlihat dari beberapa arsitektur sisa bangunan yang berdiri, seperti coliseum dan kuil pemujaan. Disebut Petra, karena kota ini dibangun di lembah Yordania berbatu cadas dengan ketinggian mencapai 40an meter yang merupakan peninggalan jaman purba, mungkin jaman dinasourus (dalam persepsiku
J) saat Petra dulu masih berupa lautan. Begitu menakjubkannya Petra, hingga akhirnya sejak 7 Juli 2007 lalu Petra terpilih sebagai bagian “7 Keajaiban Dunia” yang baru.

Turis biasanya mengambil paket 3-5 hari perjalanan untuk mengelilingi Petra dan melihat situs-situs di dalamnya, karena seperti kukatakan tadi, Petra merupakan kota -- sehingga ada kawasan luas perumahan, kuil dan gereja, hingga makam-makam bangsawan. Tapi karena memperkirakan bahwa besok kami akan kembali ke Dubai -- dan mengingat jaraknya Petra 2,5 jam dari Amman -- maka kami cukup gila untuk menyanggupi mengelilingi kota tua itu selama 6 jam!

Kami berjalan di tengah belahan gunung batu yang sangat besar. Nyaris tidak ada rumput-rumput yang menyelimuti gunung raksasa tersebut – jika ada pun, hanya sembulan pohon kecil dengan ranting-ranting yang rentan patah. Dan setiap ada ranting atau semak belukar yang kami temukan, Timmy menebaknya sebagai semak belukar yang terbakar saat Musa menerima titah Tuhan untuk membawa Israel keluar dari wilayah Mesir…LOL!

Ada banyak sekali lubang-lubang di batu. Itulah rumah-rumah tempat orang Petra tinggal berabad-abad lalu. Ya, mereka tinggal di gua-gua yang mereka lubangi sendiri untuk dijadikan hunian. Pastinya dulu lubang-lubang itu berbentuk simetris, tapi kita sudah tidak beraturan karena pengendapan bebatuan dan sedimentasi dari pasir-pasir yang memenuhi celah-celah kosong tersebut setelah tidak ditinggali selama ratusan tahun. Menurut cerita, Petra sempat disebut sebagai kota hilang, karena keberadaannya tersembunyi dari para peneliti Barat hingga barulah pada tahun 1812, petualang Swiss, Johann Burckhardt, berhasil memasuki kota itu dengan menyamar sebagai seorangmuslim.

berpose di pilar-pilar sisa peninggalan kerajaan Romawi
Di Petra, ada banyak makam bangsawan yang bahkan ukurannya lebih besar daripada rumah masyarakat umum – kemungkinan karena sekaligus digunakan sebagai tempat penyimpanan harta. Beberapa bangunan merupakan perpaduan antara budaya Mesir, Nabatean (yang merupakan warga setempat), dan Roma (yang menjadi penjajah di era itu). Di depan setiap situs selalu ada orang-orang gypsi – dewasa maupun anak-anak – yang menjajakan postcard, perhiasan, bahkan menyewakan kuda dan keledai mereka untuk ditunggangi mengelilingi situs-situs disana. Tentunya itu semua tidak gratis -- bahkan disewakan dengan harga yang cukup tinggi. Itu sebabnya gadis kecil gipsy yang menyapaku harus dapat ditolak secara halus sebelum dia menghabiskan dinar yang kubawa hanya untuk perhiasan dan transportasi :3



kami mengunjungi banyak sekali bangunan-bangunan peninggalan...ada yang nampak utuh, ada yang sudah hancur sebagian. Kami singgah di Al Khazneh ("The Treasury")  yang menjadi bangunan pertama yang ditemukan setelah melewati dinding batu yang super tinggi, bekas gereja dengan lantai berhiaskan mozaik ala Byzantine, Theatre, dan entah bangunan apa lagi.. Entah karena baru kali ini melihat peradaban kuno dunia lain, aku sangat kagum dengan kegigihan para pemahat di bukit batu ini....membuat bertanya-tanya bagaimana cara mereka melakukannya...seperti membuat lingkaran tiang yang halus misalnya??!!
kami mencapai monastery:)

Salah satu tempat yang sulit dicapai – tetapi wajib kunjung selama di Petra -- adalah monastery/ biara (
El Deir ). Letaknya di gunung batu di daerah yg disebut Ad-Deir. Di puncak itu terdapat suatu bangunan megah yang diperkirakan sebagai gereja pada jaman Byzantine. Untuk mencapainya, kau harus menaiki ratusan anak tangga. Jika kau mendengar bahwa mencapai monastery perlu menaiki 100 anak tangga, it's truly a lie… Setidaknya ada sekitar 800an anak tangga yang harus kamu lewati -- belum lagi beberapa jalan datar yang menambah langkah-langkahmu menjadi berjumlah ribuan. Aku berani bertaruh -- jika benar-benar berjalan dari gerbang masuk Petra -- nyaris tidak ada orang Indonesia yang sanggup mencapai monastery! Tantangan pertama adalah banyaknya kotoran keledai dan kuda di sepanjang jalan yang dilalui – membuat sebagian orang biasa langsung il-feel dan menyayangkan apabila sepatunya yang mahal harus dikotori dengan ‘that kind of stuff’. Kedua, tingginya tempat monastery berdiri yang membuat oksigen semakin tipis dan ratusan tangga itu membuat kamu kehabisan napas -- bahkan aku sempat menyuruh Yudi dan Timmy meninggalkanku di tengah perjalanan karena aku merasa akan semaput. Dalam hati aku ngedumel sendiri, “Mengapa di Indonesia kita tidak memiliki budaya berjalan kaki!! Terlalu banyak orang nyaman dengan berkendaraan pribadi kemanapun mereka ingin pergi (sayang sekali, aku termasuk dalam golongan itu..). Bahkan ada lelucon yang berbunyi,"kalau angkot itu bisa mengantar sampai depan rumahnya, itulah yang dipilih oleh orang Indonesia". Dapat dibandingkan dengan orang-orang barat. Meskipun mereka menggunakan high-heels, berjas, berdasi, namun tetap membudayakan menggunakan transportasi umum dan menyambung dengan berjalan kaki dari halte terdekat ke tempat tujuan mereka. Makanya, cukup mengejutkan juga pada mulanya saat mendaki tangga-tangga monastery kami banyak berjumpa dengan kakek-nenek berkebangsaan eropa yang tetap antusias mendaki-- meskipun mereka tertatih-tatih. Tentu saja, semangat mereka sangat menyidir diriku yang masih muda dan sudah hampir menyerah untuk dalam pendakian tersebut.(dan sudah berwajah pucat, dengan keringat tertahan dalam mantel)

Kembali pada diriku yang ngos-ngosan mendaki gunung batu itu (dan sudah tertinggal jauh di belakang Timmy dan Yudi), aku sempat putus asa dan memilih untuk berhenti. Sambil membasahi kerongkonganku yang kering dengan beberapa teguk air, kulihat ada seorang pria berukuran jumbo yang napasnya juga tersengal-sengal dan Nampak tertinggal dari rombongan…(pak…kita senasib…(T_T) ). Aku berpikir apakah sebaiknya aku menunggu Yudi dan Timmy saja untuk turun kembali ke situs di bawah, sampai akhirnya aku bertemu dengan seorang wanita turis asing. Aku tidak bertanya darimana asalnya. Rambutnya merah ikal dan nampaknya berusia sekitar 50an. Dia dalam perjalanan turun dari monastery.
“Is it still far to go up there?”, tanyaku padanya dengan wajah memelas
“No..”,katanya dengan wajah cerah,”Ït’s only at the back of that stone and you just straight…there it is”
“Ï almost lost my breathe”, kataku berkeluh kesah
Dia menyemangatiku,”You know what…I have asthma. But I don’t feel it. I just take a deep breath…deep breath. And what you see there, it’s worthied”
Aku tertegun. What???! Aku ngga akan kalah dengan orang yang asma untuk mencapai monastery itu;8 . Akhirnya aku mendaki dan mendaki…dan akhirnya, tidak sampai 10 menit, aku mencapai monastery…yippeeee -- meskipun kata Timmy dan Yudi wajahku sudah pucat pasi.
Sesampai di atas, aku ngga lupa mengambil foto dengan pose seperti patung liberty di depan monastery. Ini benar-benar pengalaman ngga terlupakan! Lalu kami istirahat sejenak dan memesan teh botol. Harganya 3 dinar = Rp 36ribu!!! Kalau ngga karena kecapean, aku ngga akan memesannya (T_T). Teh botol mahal itu diminum dengan kepuasan yang ngga terkatakan – kamu seperti baru memenangkan olimpiade!!
Untuk mendaki ke monastery kami menghabiskan waktu kurang lebih 1 jam! (mungkin karena aku beberapa kali berhenti untuk mengambil napas). Tapi untuk turun dari sana, kami hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit.
Dan yang menarik adalah dalam perjalanan turun yang terasa ringan itu, aku kembali bertemu dengan si wanita berambut merah
“Hey..”, dia menyapaku terlebih dahulu,”you did it!!!”
Ÿaa…I did it…”, kataku senang.
“Ÿou see…”
Yuppp…I see…Pengalaman ini memang memberiku pelajaran pribadi. Terkadang seringkali aku menyerah untuk sesuatu yang sangat berharga – bahkan membuat keputusan-keputusan yang salah. Padahal untuk memperoleh hasil yang aku inginkan, aku hanya perlu berjalan sedikit lebih jauh….ya, sedikit lebih jauh….^^