Halaman

Minggu, 02 Desember 2012

Dubai: Hidup sebagai Perantau




Suatu hari aku pernah naik mobil dengan supir orang Asia Selatan (aku lupa tepatnya, apakah dia Pakistan, Afganistan, atau India). Saat ditanyai bagaimana pendapatnya tentang Dubai, dia bilang kota ini tidak menyenangkan. Aku dan teman-temanku yang berada di mobil itu tentu saja heran. Lalu dia lanjutkan dengan mengatakan bahwa kota ini menyenangkan untuk kunjungan beberapa waktu, tetapi jika kita tinggal untuk waktu yang lama, kita akan menemukan bahwa kota ini tidak begitu menyenangkan. Kesimpulan yang kuperoleh dari curhat si supir yang lumayan panjang adalah biaya hidup di Dubai tinggi dan penduduk setempat yang individualistis.

para pekerja asing sangat mudah ditemukan di jalanan
Setidaknya sudah 2 supir yang kami tanyai, dan mereka berkomentar relatif serupa. Kota ini memang menakjubkan apabila dilihat dari konstruksi bangunannya yang menjulang dan megah. Bahkan banyak hal di UEA yang menjadi nomor 1 di dunia -- gedung tertinggi, mall terbesar, aquarium terbesar, lift tercepat, gedung dengan lantai terbanyak, dan entah apalagi yang belum aku ketahui…Tapi jika kita terjun dalam kehidupan sehari-hari, mereka bilang itu tidak semudah yang terlihat.

Aku mulai mencoba memahaminya… Harga makanan di UEA cenderung sama dengan harga di Jakarta (bahkan terkadang ada yang lebih murah). Untuk produk-produk elektronik… jelas lebih murah UEA, meskipun kosmetik cenderung lebih mahal. Pakaian-pakaian juga banyak yang murah, meskipun banyak pula yang mahal (tapi jika dibandingkan dengan item yang sama, maka Jakarta akan memberi harga yang lebih mahal). Harga transportasi jika harus naik taksi pun sama dengan harga di Jakarta. Jadi analisaku sementara adalah memang gaji para pekerja pendatang disini rendah, sehingga mereka memang harus berjuang untuk hidup -- mungkin bahkan mengambil 2 profesi, di siang dan malam hari…atau, justru gaji mereka sudah memadai, tapi mereka masih membandingkannya dengan gaya hidup yang diperoleh oleh penduduk local (dan itu memang ngga mungkin sama…)

Beberapa supir yang pernah berbincang dengan kami -- selaku wartawan, kami banyak bertanya, dan 'korban'nya kebanyakan supir -- banyak yang merupakan pendatang baru. Mereka baru hitungan beberapa bulan atau belum sampai 5 tahun bekerja. Pemikiranku sementara mengenai hal itu adalah pekerja sebelumnya banyak yang tidak bertahan, lalu memilih untuk keluar dan pindah entah kemana. Itu sebabnya selalu ada pekerja baru yang masuk. Banyak dari mereka belum menikah (aku bayangkan jika di Indonesia, pastinya pria seusia mereka sudah menikah--bahkan meskipun mereka pengangguran). Jika ditanya mengapa belum menikah, alasannya karena hidup sangat keras…(wow…mereka realistis sekali…seandainya lebih banyak orang Indonesia yang realistis ketimbang mengandalkan figure atau harta gono-gini…uppss….kemabli ke track)

Aku memang tidak pernah menanyakan gaji mereka, tetapi itulah bayangan dalam benakku sementara ini. Bahkan saat di Bahrain, supir kami, Jafar (semoga masih ingat) bilang kalau di Bahrain pembantu yang berasal dari warga pendatang ’ hanya’ dihargai Rp 1,6 juta per bulan. Meskipun untuk ukuran Indonesia itu sudah mahal banget (mencapai 3x gaji pembantu di Indonesia), tetapi untuk ukuran Bahrain itu masih murah sekali, mengingat biaya hidup yang mahal. Kabar baiknya, pembantu rumah tangga tidak perlu mengeluarkan biaya transport, tempat tinggal, dan makan – karena semuanya telah ditanggung oleh majikan mereka. Nah…, nampaknya gaji supir pun tidak jauh berbeda dari angka itu. Mungkin sedikit lebih tinggi, tapi mereka masih harus keluar biaya makan dan tempat tinggal. Beruntung supir kami Jafar adalah mantan pegawai bank, sehingga ia tidak benar-benar bergantung hanya pada pekerjaannya sekarang yang sebagai supir. Tapi ngga semua supir seberuntung Jafar -- bahkan bisa dikatakan lebih banyak yang senasib dengan para pembantu dan supir dari Asia Selatan ini. Huff…kiranya Tuhan menolong mereka...

uppss..ini bukan pekerja asing...Ini Yudi dan Timmy pas liputan profil TKI yang berhasil di Dubai^^
Lalu bagaimana dengan kehidupan pendatang di negara Timur Tengah lainnya? Di Irak misalnya…aku jadi penasaran. Irak merupakan negara tujuan kami selanjutnya, tetapi kami masih berusaha mendapatkan visa untuk masuk ke sana. Aku dengar di Irak ada pembantu-pembantu yang digaji mahal disana – mencapai US$500-600 per bulan! Menurut kabar, mereka memperolehnya jika mendapat majikan yang berasal dari suku Kurdi yang tinggal di sebelah utara Irak – suku ini adalah pengusaha minyak. Kabar itu masih sumir, dan…bagaimana aku mau tau kalau belum sampai kesana…
Usut punya usut, setelah bertanya dengan orang Indonesia yang tinggal di Dubai, ternyata biaya tempat tinggal cukup mahal di Dubai – menyebabkan para pendatang harus membayar secara patungan untuk menyewa 1 ruang apartemen. Biaya sewa apartemen bisa mencapai 3300 dirham per bulan atau US$900 an (atau sekitar Rp 8,200,000). Padahal itu setara dengan gaji penjaga toko di mall. Jadi, mau ngga mau, 1 apartemen harus digunakan oleh 3-5 orang untuk menghemat biaya, sehingga dapat lebih banyak menabung atau mengirim uang bagi keluarga yang ditinggalkan di negara asal. Itu pula yang menyebabkan banyak perusahaan Dubai pun menyediakan  tempat tinggal bagi karyawan dan bus antar jemput untuk menghemat biaya transportasi. Beruntunglah bagi mereka yang mendapatkannya. Tapi bagi yang tidak, wajar saja mereka merasakan betapa kerasnya hidup di kota ini. Belum lagi harus bekerja dan deal dengan berbagai pendatang asing yang punya kultur kerja berbeda-beda…bisa mendatangkan stress di tempat kerja maupun di jalan. Tapi setidaknya selama bekerja di Dubai, mereka bisa menghadiahkan barang-barang elektronik dengan harga murah untuk dikirim ke keluarga mereka.

Dubai: I'll give you a cheap price:)


Dari jaman kapan tau orang tuh klo ke Dubai ingatnya belanja doank...terutama belanja barang elektronik. Dubai sekarang emang jadi surga belanja buat daerah Timur Tengah. Bisa kita bilang kayak Hong Kong nya Asia gitu deh. Pas mampir ke Dubai Mall buat liputan aquarium terbesar di dunia, sempat melirik harga barang- barang elektronik, seperti handphone, laptop, dan ipad. Ternyata selisihnya bisa sampe sekian ratus ribu dari harga di Indonesia. Iseng-iseng, akhirnya nanya sama orang Indonesia disana apakah ada tempat yang menjual barang elektronik dengan harga lebih murah dari di mall...ehhh...tnyata ada:D

Lokasinya terletak di Bur Dubai. Namanya internet and media cities. Tapi kayaknya supir-supir disana ngga familiar dengan istilah itu. Sebut aja Bur Dubai, mereka biasanya langsung 'ngeh' klo kita mau cari barang elektronik. Internet and media cities Bur dubai terletak di dekat terminal bus pinggir kota.  Kawasan ini dihuni kebanyakan oleh pendatang dari india, pakistan, dan irak. bukan hanya tinggal, namun para pendatang ini membuka ruko-ruko yang menjual produk elektronik dengan harga miring.

Barang yang ditawarkan di tempat ini bisa selisih ratus ribuan bahkan mencapai satu jutaan lebih murah daripada yang dijual di dalam negeri, tergantung kemampuan kita dalam menawar. beberapa barang bahkan dijual hanya sedikit lebih tinggi dari harga yang dilansir oleh produsen barang via internet. Setiap kali baru menengok suatu barang, penjual biasanya sudah kelewat antusias...bahkan menawarkan kita untuk membeli barang yang ngga kita cari.... Sedikit-sedikit, mereka selalu melontarkan,
"Come on, my friend...i'll give you a cheap price.."
Bahasa inggris berdialek arab nya itu lho...ngga nahan...XD...Dan ngga sedikit orang yang akhirnya luluh dengan kegigihan rayuan para pedagang ini...(aku lah salah satu 'korban'nya). Agak berbada dengan citygate nya Hong Kong yang semua barangnya dijamin ke-asli-an nya, klo di Bur Dubai bisa mendapatkan mulai dari yang asli sampe yang KW...tapi tenang aja...penjualnya bakal kasitau mana yang asli dan mana yang KW.

Internet and media cities adalah salah satu dari beberapa tempat di Dubai yang memberlakukan economic free zone. Yang lainnya itu klo ngga salah pusat keuangan internasional, maritime city, bandara, dan jebel ali. Sedangkan untuk kawasan lain, tetap diberlakukan pajak impor, tapi ngga sampe 5 persen. Hal ini memang sengaja dirancang oleh pemerintah dubai untuk menjadi multipliers effect, yaitu menambah pemasukan melalui pendatang yang membelanjakan uangnya. Dan hal tersebut terbukti, sejak diberlakukannya economic free zones pertama di dubai pada tahun 1985, pengunjung kota ini nyaris tak melewatkan untuk mengunjungi kawasan bur dubai. Bahkan di hari libur seperti hari Jumat, Bur Dubai itu keliatan sepi cuma sebelum jam sholat jumat doank. Setelah itu, ya...ramai lagi.

Selasa, 30 Oktober 2012

Dubai: Sand Storm


Aku dan teman-teman meninggalkan Bandara Queen Aliya, Yordania pukul 2 siang waktu setempat. Udara masih cukup dingin saat kami meninggalkan negeri itu – sekitar 16 derajad celcius. Dengan maskapai Emirat, kami menuju Dubai dengan perkiraan jarak tempuh perjalanan lebih dari 3 jam.
Aku tidak ingat tepatnya apakah setelah 2,5 jam atau 3 jam perjalanan – yang jelas kami sudah memasuki kawasan Uni Emirat Arab -- pesawat boeing 777 yang membawa kami tiba-tiba mengalami goncangan. Burung besi raksasa itu terlempar ke kanan-kiri, naik-turun berkali-kali dalam hitungan detik. Penumpang yang semula tenang dan sedang menikmati makan siang atau nonton TV serta-merta menjadi panik.

Aku segera melihat ke luar jendela. Awan nampak tebal dan menggumpal dengan warna ke-abu-abu an – meskipun tidak seperti warna awan hujan. Apakah yang sedang terjadi, bathinku. Aku berusaha untuk menenangkan hatiku sendiri.

Goncangan yang semula diperkirakan akan mereda ternyata terus berlangsung lebih dari 3 menit dan tidak kunjung berhenti. Perutku mulai terasa teraduk-aduk. Jantungku mulai berdetak kencang. Penumpang mulai ada yang teriak histeris – terutama penumpang wanita. Anak-anak menangis. Situasi dalam pesawat cukup mencekam saat itu (atau “sangat mencekam” bagi yang saat itu benar-benar ketakutan setengah mati). Aku pun mulai berdoa – berharap Tuhan mengingat setiap kami yang ada di dalam pesawat dan segera berkemurahan untuk menenangkan cuaca buruk di luar sana, seperti hal nya Yesus menenangkan angin sakal di danau saat perahu murid-murid-Nya diterjang gelombang.(heran...kok aku ngga nangis, ya...)

Film Harry Potter yang sedang kutonton pun sudah ngga ku gubris lagi, sibuk menggenggam kencang pegangan kursi pesawat. Penumpang-penumpang pun mulai muntah – termasuk yang duduk di bangku depanku. Bunyi “hoekkk…”yang bertubi-tubi sontak membawa tanganku meraih pashmina yang kupakai sebagai syal untuk menutupi hidung. “Ya, Tuhan…jangan sampai bau muntah orang-orang ini juga memancing aku muntah”, pikirku. Dan perutku pun mulai menunjukkan reaksi-reaksi sulit berkompromi. Aku pun berusaha menenangkan debaran jantungku yang begitu kencang, seiring dengan pesawat yang naik turun dengan cepat serasa naik kora-kora di Taman Ancol. Dan dalam momen kritis itu, temanku Timmy pun dengan sigap segera menyalakan ipod-nya dan mulai merekam kejadian di dalam pesawat. (entah apa yang merasukinya – padahal itu bisa menjadi saat-saat terakhir kami). Suara tangis anak-anak masih terdengar kala itu. Aku tidak ingat seberapa lama itu berlangsung, sampai akhirnya situasi pun mulai mereda, dan pesawat kami lolos melewati cuaca buruk tersebut.

Hanya dalam hitungan menit setelah situasi mereda, pesawat kami dinyatakan siap untuk mendarat di Bandara int’l Dubai. Dubai terlihat agak teduh dengan langit berwarna kelabu.

Setelah pesawat mendarat, barulah aku mendengar dari salah satu pramugari bahwa kami baru saja melewati badai gurun (sand storm). Aku tidak tau penyebab pasti terjadinya badai gurun, namun kemungkinan karena peralihan musim. God…ngga kebayang kalau tadi kami naik pesawat kecil apa yang akan terjadi…???!!!!!!

Pengalaman menghadapi sand storm di udara  mungkin adalah salah satu pengalaman yang ngga akan terlupakan seumur hidup. Aku jadi teringat, bahwa kejadian kemarin bukanlah satu-satunya pengalamanku menghadapi sand storm. Sebenarnya saat aku dan teman-teman meliput di Bahrain, kami pun menghadapinya.

Sand storm terjadi pada suatu malam. Aku tidak melihat langsung kejadian saat angin menghantam Bahrain begitu hebatnya malam itu, karena sudah tidur;p (aku memang suka tidur cepat..). Namun sudah mendengar selentingan beritanya dari twit beberapa penduduk local yang aku ikuti via account twitter-ku. Tapi menurut Yudi dan Timmy yang masih terjaga pada jam itu, kaca jendela kamar mereka terpukul berkali-kali oleh tali tempat pembersih kaca hotel bergelantungan. Dan saat mereka berusaha untuk melihat jalanan, tidak ada satu pun yang terlihat – hanya putaran pasir berterbangan yang membuat pemandangan berwarna coklat keruh.

Dan saat paginya, waktu kami mau live di luar lobby hotel, aku sempat kaget melihat pohon-pohon, mobil-mobil, dan atap parkiran semuanya tertutup warna coklat pasir. Anginnya pun masih bertiup sangat kencang pagi itu, sehingga kami terpaksa live dari dalam lobby hotel. Dan ternyata stand storm yang dialami oleh Bahrain bersumber dari Kwait (jadi aku pun ngga bisa bayangkan seberapa dasyatnya sand storm menerpa Kwait kala itu).

sehari setelah sand storm, angin masih terlalu kencang...lihat daun pohonnya...
Saat keliling kota pun, kami melihat mobil-mobil berlalu lalang dalam kondisi kotor. Nampaknya para pemilik kendaraan memutuskan untuk tidak mencuci mobilnya sebelum efek sand storm berakhir. Menurut Jafar, supir kami, ini adalah hal yang biasa terjadi di Bahrain. Maka munculnya sand storm ngga otomatis membuat orang memilih untuk izin ngga masuk kerja atau menutup toko-toko. Bahkan ia mengaku pernah membawa kendaraan saat sand storm sedang melanda kota, dan baginya itu hal yang lumrah. Aku jadi geli sendiri  jika membandingkannya dengan hujan di Jakarta. Saking buruknya sanitasi kota itu, hujan biasa pun dapat menyebabkan banjir dan jalanan macet berkilo-kilo meter. Sehingga situasi hujan selalu bisa menjadi pembenaran untuk telat berjam-jam masuk kantor. Dan masuk kantor telat ngga berarti mereka akan pulang kantor telat. Justru pas pulang kantor, selalu tepat waktu! Ck..ck..ck…
lihatlah pada debu di mobil...bukan pada merk mobilnya:p
Kembali tentang sand storm, setidaknya ini jadi pengalaman bagiku..hehehehe…mau kapan coba ngalami sand storm di Indonesia??!!=D… Tapi aku ngga bakal mau lagi ngalamin sand storm di udara kayak kemaren ..X8…. and thank God for His mercy…


Dubai: Menjadi si No.1


apa pendapatmu saat melihat raut wajah Mohammed bin Rashid Al Maktoum??
Mungkin ada banyak orang sudah tahu Dubai, dan mungkin ada lebih banyak orang yang tidak mengetahui banyak mengenai Dubai (seperti pada saat aku datang ke sana). Dubai membuatku tercengang dan berdecak kagum, menyadari bahwa banyak “yang no.1 di dunia” ada di kota ini. Yang baru kuketahui adalah aquarium terbesar, mall terbesar, gedung tertinggi, lift tercepat, gedung dengan lantai terbanyak, hotel dengan lobi termegah, restaurant ter-elit dan entah apa lagi... Ini bisa dikatakan hasil ‘sampingan’dari ratusan gedung pencakar langit yang sudah berdiri di ke-emir-an ini. Aku curiga mereka pun mengincar predikat “gedung pencakar langit terbanyak di dunia”.

Semuanya tentunya bersumber dari seseorang yang memiliki visi, dan dialah sheikh Mohammed bin Rashid al Maktoum, yang merupakan penguasa Dubai. Wajah Mohammed bin Rashid terpajang hampir di setiap sudut kota Dubai -- di dinding jalan, gedung-gedung tinggi, hotel, bandara, dan tempat-tempat umum lainnya. Biasanya wajahnya terpampang bersebelahan dengan wajah raja sekarang dan wajah raja pertama UEA – secara negeri ini memiliki tingkat respect yang tinggi terhadap pemimpinnya, layaknya negara-negara monarkhi.

Truly speaking, dia bukan hanya disegani di Dubai, tapi juga seluruh pelosok UEA – secara dia juga merangkap sebagai perdana menteri dan wakil presiden pada saat aku berkunjung kesana (sempat membuatku bergidik, bagaimana mungkin seseorang menjabat 3 posisi yang merupakan pucuk pimpinan??!!). Dialah yang membuat kebijakan agar Dubai menjadi kawasan ekonomi khusus, sehingga barang-barang impor yang masuk via Dubai tidak dikenakan pajak! (aku rasa aku pernah menjelaskan mengapa produk-produk elektronik yang kami beli bisa didapatkan dengan harga murah..ehh…atau belum?).

Seorang supir – lagi-lagi yang kami ajak ngobrol selama perjalanan -- menceritakan alasan yang diberikan oleh si penguasa Dubai atas pertanyaan mengapa ia membangun banyak yang “ter di dunia” di Dubai. Jawabannya cukup membuat merinding: karena sheikh Mohammed bin Rashid al Maktoum ingin orang Dubai selalu menjadi nomor 1 dimana pun mereka berada! Wow....inilah pemimpin yang seharusnya dimiliki oleh setiap negara.
Mohammed bin Rashid al Maktoum pun termasuk orang yang memiliki concern besar di dunia pendidikan. Salah satu debut yang ia buat adalah pada tahun 2007 ialah memberikan donasi bagi pendidikan sebesar US$ 10 milyar – menurut yang kubaca, itu adalah salah satu sumbangan terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah! Tujuannya adalah untuk mengejar ketinggalan pendidikan dunia Timur Tengah dari dunia Barat. Huff..seandainya saja aku bisa menjadi salah satu penerima donasi itu…
Kau tahu, aku belum lama berkecimpung di liputan politik Indonesia – setidaknya belum sampai 5 tahun – dan aku sudah mual karenanya. Mual karena keserakahan penguasa dalam pembagian jatah, mual dengan keculasan dan main tikam antar pesaing, mual dengan mulut manis dan bunga-bunga dalam pidato yang tidak berisi dan terkesan tidak cerdas, dan yang paling utama adalah tidak habis pikir bagaimana mungkin orang yang tidak punya visi jauh ke depan bisa terpilih duduk di kursi tersebut! (setidaknya buatlah visi jangka panjang seperti Soekarno atau Soeharto…dan aku masih bisa memaklumi ‘çatatan hitam’ lain yang mungkin muncul dalam rekam jejak seorang pemimpin. Ok…aku mungkin bisa memaklumi, tapi tidak orang lain).
Dan meskipun tidak tau banyak (apalagi mengenal) Mohammed bin Rashid al Maktoum, aku yakin pastinya ia orang yang memiliki visi jangka panjang. Nampaknya ada baiknya untuk memperoleh biografinya dalam versi bahasa Indonesia…J





Dubai: pengakuan TKI


Salah satu warga negara kita yang bekerja di Dubai berkata kepadaku,
“Jangan sampai jadi pembantu rumah tangga di Dubai”.
Banyak yang mengakui betapa menyenangkannya hidup di ke-emir-an Dubai. Meskipun disana status kita adalah pendatang, tetapi ada kepastian hukum yang menjamin ‘aturan main’ negeri itu dapat berjalan. Jadi, asal mengikuti aturan yang berlaku, kita dijamin untuk bisa memiliki tempat tinggal, kendaraan, membuka usaha, bahkan memperoleh pelindungan hukum untuk hak-hak yang harus kita peroleh. Tapi ada  catatan penting: jangan sampai harus berurusan dengan hak warga lokal – karena bagaimanapun mereka, para warga local, akan selalu didahulukan oleh pemerintah.

Menurut lawan bicaraku, hal itu sangat kentara dalam kasus penganiayaan terhadap pembantu rumah tangga. Banyak pembantu rumah tangga di negeri ini adalah warga Indonesia. Dan negeri ini termasuk salah satu yang memberikan perlakuan buruk terhadap TKI kita. Selain penyebabnya adalah kemampuan TKI kita yang pas-pas an, mereka juga memang terbiasa untuk memperlakukan pembantu sebagai budak mereka – toh, negara pun akan berpihak pada mereka. Jadi, mau majikannya dipersalahkan atas nama hukum legal maupun hak asasi manusia, tetep aja mereka kebal – mungkin bisa aku istilahkan ‘law-resistant’ =p

UEA termasuk 3 besar negara yang terdaftar memberikan perlakuan buruk pada TKI. Menurut data dari Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia pada tahun 2010, ada 45.626 kasus penyiksaan TKI. Penyiksaan banyak terjadi di Arab Saudi (sampai 22 ribu kasus), disusul Taiwan, Uni Emirat Arab, Singapura, dan Malaysia.

Masih hasil bincang-bincang, harus diakui kemampuan TK Indonesia jauh jika dibandingkan tenaga dari Filiphina yang juga banyak di UEA. Paling tidak dari segi bahasa, TK Filiphina bisa berbahasa inggris, sehingga memudahkan komunikasi dengan majikan dan aparat setempat (semua orang UEA menguasai bahasa Inggris). Apabila ia diperlakukan kasar oleh tuannya, ia bisa melapor. Itu saja sudah menjadi nilai plus yang sangat menguntungkan. Belum lagi mereka lebih terdidik dan memiliki kemampuan untuk bernegosiasi.

Sedangkan untuk TK Indonesia, jangankan mengharapkan mereka yang bekerja sebagai PRT untuk menguasai bahasa inggris, pekerja profesional di Indonesia pun ada yang belum menguasai bahasa inggris.  Belum lagi mengharapkan TK Indonesia untuk menguasai penggunaan alat-alat elektronik yang bahkan belum tentu mereka miliki di rumah mereka di Indonesia, seperti microwave, penyedot debu, coffee-maker, mesin cuci, dll. Jika mereka masuk ke negara-negara Timur Tengah ini secara ilegal dan tanpa pelatihan dari badan penyalur tenaga kerja, sudah hampir dipastikan akan babak belur, karena dianggap tidak becus bekerja oleh majikan

Mengapa seorang majikan bisa sedemikian marah, sehingga memberikan hukuman kepada pembantunya (atau baginya, budak) dengan sedemikian kejam?? Menurutku, bisa jadi sang majikan merasa telah ‘berkorban’ terlalu banyak untuk memeperoleh seorang pembantu. Jika seorang warga ingin menyewa seorang pembantu, maka ia paling tidak harus mengeluarkan US$ 1000 untuk membayar penyedia jasa pembantu. Meskipun itu terbilang besar, perlu diketahui bahwa pendapatan per kapita warga di negara ini adalah hampir US$ 50,000. ( jadi apa yang perlu dikhawatirkan?! Aku yakin uang segitu dengan mudahnya mereka hambur-hamburkan buat shopping..). Setelah itu, mereka harus mengeluarkan gaji bagi pembantu mereka yang berkisar Rp 1,5 – 2,5 juta per bulan. Tapi tidak sedikit majikan yang ngga mau rugi, dengan tidak membayar gaji pembantu mereka di beberapa bulan pertama, sebagai ganti US$ 1000 yang mereka keluarkan. (Dasar pelit…). Itu pun masih terbilang ‘majikan becus’.karena yang ngga becus bisa sampai ngga mau membayar gaji si pembantu.

Kembali ke konsep pembantu yang disamakan dengan budak. Budak itu dibeli. Dan setelah mereka dibeli, maka mereka bebas diperlakukan semau majikannya – termasuk untuk dipukuli jika dianggap tidak becus bekerja. Masalahnya adalah mereka bukan hanya dipukuli, tapi ada juga yang diperkosa hingga menghasilkan anak. Ngga heran klo TKI wanita ada yang pulang dengan membawa anak dengan tampang peranakan, dengan hidung mancung, mata besar dengan garis tegas.. padahal ibu nya wong jowo abizz...( Apakah itu termasuk dalam hak majikan dalam memperlakukan budak??!)

Tapi harus diakui, kesejahteraan dari segi gaji dan fasilitas pemerintah memang menggiurkan, meyebabkan tiap tahunnya jumlah TKI yang datang ke Dubai bukannya berkurang, namun bertambah. Toh perlakuan buruk itu tidak dialami oleh semua TKI yang jadi pembantu. Jadi, berharap saja menjadi salah satu pembantu yang memperoleh majikan baik. Itu sebabnya banyak pembantu lebih senang mendapat majikan expatriate (seperti orang-orang Eropa yang tinggal di Dubai untuk bekerja). Para expatriate dinilai masih memberikan pembantunya hak-hak yang dibutuhkan, seperti cuti, jam istirahat (dan mungkin juga bayaran ekstra). Expatriate yang bekerja selaku orang kantoran/ professional pun juga cenderung tidak melakukan kekerasan fisik.

Dan bagaimana kalau dapat majikan yang penduduk local?? Tentu saja aku ngga bisa mengatakan semua ornag local memberi perlakuan buruk. Tetapi menurut lawan bicaraku ini, ada banyak contoh kasusnya. Sekarang, kalau membayangkan kasus TKI yang disetrika oleh majikannya, digunting mulutnya, bahkan sampai yang mayatnya dibuang ke tong sampah…hhiiiihhhhhh….ngeri rasanya… Sulit percaya ada orang yang hidup di jaman modern dengan terpenuhinya segala kebutuhan duniawinya, tetapi punya perilaku seperti orang di jaman bar-bar!

Aku mulai berpikir, dan mencoba memaklumi jika majikan mereka marah besar saat baju mereka yang mahal bolong saat disetrika, guci antic milik mereka pecah, makanan unuk dinner rasanya aneh, dsb -- tapi tentu saja tidak membenarkan tindakan penyiksaan sebagai akibat dari kecerobohan itu. Para tenaga kerja itu, mereka datang hanya karena mencari nafkah dan penghidupan yang lebih baik. Banyak dari mereka bahkan baru melihat bandara dan untuk pertama kalinya naik pesawat, ya..saat jadi TKI ini. Kebayang ngga kalau terjadi delay di pesawat saat sedang transit atau ada pengurusan prosedur yang ngga becus saat mereka tiba di suatu negara?! Aku ngga bisa bayangkan betapa bingungnya mereka (dan satu lagi, ngga semua dari mereka tau ada yang namanya kantor perwakilan negara seperti KBRI). Meskipun mereka tidak terdidik, mereka ngga cukup bodoh untuk dengan sengaja merusak perabot majikannya (ok…pembenaranku adalah mereka melakukan semuanya dengan tidak sengaja). Dan mohon dimaafkan kalau hingga saat ini Indonesia ngga sanggup untuk menafkahi anak bangsanya sendiri…

Mengantisipasi resiko menjadi PRT, itu sebabnya banyak juga pendatang yang mengadu nasib di Dubai yang lebih enjoy untuk datang dan membuka usaha sendiri. Jika ada modal, cukup penuhi syarat-syarat yang diajukan pemerintah, sebuah toko atau ruko pasti bisa dibuka. Kalau belum punya modal, bisa juga jadi penjaga toko di toko milik teman sebangsa…yang penting majikannya jangan warga setempat…(rasanya seperti dilanda pengalaman traumatic). Warga China cukup pintar dalam hal ini. Jadi di Dubai, kamu ngga gampang menemukan warga China, meskipun sebenarnya mereka banyak sekali. Tapi mereka justru terkumpul untuk bekerja di salah satu mall (yang bernama Dragon Mall), menguasai semua toko yang ada disana – baik yang punya toko, hingga penjaga toko, dan penjual makanan-minuman, semuanya adalah orang China.. Di satu sisi, mereka dapat keuntungan kepastian hukum untuk menjalani usaha di Dubai. Dan sisi lain,, mereka bisa feel like home..

Dubai: Warna-warni Pakaian


maaf tampak belakang...soalnya mereka 'rela' melapor ke polisi klo merasa tersinggung


Ada pribahasa berbunyi: “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”, yang artinya dimana pun kita berada, hendaknya tingkah laku dan kebiasaan harus menyesuaikan dengan adat-istiadat setempat. Sempat terpikir bahwa aku dan rekan-rekan akan kesulitan untuk menyesuaikan diri saat akan meliput di Timur Tengah. Alasannya? Banyak hal…karena ini adalah negara muslim, selain itu pemerintahannya alergi pada kebebasan pers, posisi wanita ada di nomor sekian dalam lapisan social, dan tentu saja ada kekhawatiran terhadap peraturan tata busana setempat yang sangat árabic dan tertutup’. Tapi saat kami transit di Dubai, UEA,  nampaknya kekhawatiranku itu memang berlebihan…

Aku dan Anne mencoba baju abaya...pantaskah?;)
O,ya...perlu diketahui bahwa penduduk di Dubai sangat beragam -- mulai dari penduduk asli, pengunjung dari negara-negara Teluk, orang-orang Eropa yang bekerja dan melancong, serta orang-orang Asia yang kebanyakan mengadu nasib untuk penghidupan yang lebih baik. Keberagaman penduduk ini tentu saja mempengaruhi tata busana sehari-hari *wink2;)

Dubai adalah salah satu kota di kawasan Timur Tengah dimana orang bebas berbusana apa pun -- mulai dari yang tertutup dari atas sampe ke bawah, hingga yang model terbuka dimana-mana. Namun kebanyakan pendatang dari sekitar Teluk sangat setia untuk berbusana abayadan kandura. O, yeah…kayaknya ini memang harus diterangkan satu per satu..

ABAYA DAN KANDURA
abayaadalah pakaian tradisional untuk kaum wanita. Dan seperti yang sering terlihat di foto-foto dan televisi abaya memang hanya berwarna hitam dan bentuknya seperti daster -- memanjang dari atas hingga bawah --  hingga menutupi ujung jari kaki. Seringkali aku melihat sekelompok wanita, menggunakan abaya berjalan-jalan di mall, hingga ujung abaya nya menyapu lantai (aku bahkan heran mereka bisa berjalan tanpa abayanya terinjak oleh temannya).

kandura seperti ini lazim dipakai pria remaja hingga dewasa
Seiring dengan berkembangnya jaman, abaya sekarang dapat 'sentuhan modern' juga. Warna abaya tetaplah hitam, tapi sekarang sering disertai dengan jahitan manik-manik berwarna-warni di beberapa bagian -- terutama di bagian pergelangan tangan baju. Seringkali agar senada, burqa (penutup kepala)nya pun dibuat satu set dengan manik-manik yang serupa.

Nah…biasanya wanita cukup memakai burqa dan abaya. Tapi di beberapa daerah yang cukup ketat, wanita pun memakai gafaaz -- sarung tangan. Ini adalah untuk menutupi jemari wanita yang dianggap sebagai bagian aurat yang harus dijaga dan tidak boleh ditunjukkan ke sembarang orang (kesannya dapat mengundang nafsu priaL). Tapi selama di Dubai aku merasa tidak pernah menemukan wanita memakainya.

Baiklahhhh…cukup untuk abaya. Sekarang untuk pria. Pakaian tradisional pria disebut kandura. Kalau pakaian wanita warnanya hanya hitam, kandura paling engga ada 3 warna, yaitu putih, coklat, dan abu-abu. Tapi yang sering digunakan di musim semi dan panas adalah warna putih
-- sedangkan abu-abu dan coklat biasanya digunakan di musim dingin.

Yang mengherankan aku adalah hampir tidak pernah terlihat pria di Dubai kanduranya kotor -- bahkan oleh sebercak tumpahan kopi, kena gores pulpen atau bekas lipstik pun ngga ada. Meskipun kota mereka bersih, bukankah keringat, asap knalpot kendaraan, dan debu pasir dari gurun pastinya harus mengenai baju mereka!??

Maka usut punya usut, kabarnya cowok-cowok pengguna kandura biasanya mengganti
bajunya beberapa kali dalam 1 hari untuk menghadiri acara-acara yang berbeda. Ini membuat aku menyimpulkan jika mereka pulang kerja dan akan jalan ke mall, mereka akan mengganti kandura, lalu jika habis itu akan ke mesjid, maka kanduranya diganti lagi. Katanya
sih…bukanlah hal yang mengherankan kalau seorang pria punya 50 atau lebih
kandura di lemarinya, bahkan bisa mencuci 20 potong kandura dalam sekali cuci!
*glekk…

Nahh…kalo sudah pake kandura, biasanya kepala mereka pun pake topi ghafiyah -- mirip topi orang Yahudi kalo doa atau topi orang muslim kalau sholat (ini bukan peci, lho..). Tapi ghafiyahbiasanya ngga keliatan, karena ditutup dengan guthra -- sejenis kain besar penutup kepala pria (ingat fotonya Yaser Arafat, khan??!!).
Guthra ada macam-macam corak. Ada yang kayak punya Yaser Arafat -- dengan corak kotak-kotak merah-putih -- tapi umumnya orang-orang menggunakan yang warna putih polos. Dan
supaya guthra nya terikat kencang, maka ada semacam tali pengikat yang
melingkari kepala, yang disebut egal.

BERPAKAIAN DI KESEHARIAN DUBAI
Bisa dikatakan terlalu banyak pendatang di Dubai…dan terlalu beragam…dengan kebanggaan akan identitas mereka masing-masing. Pendatang dari Eropa cenderung menggunakan busana modern – mereka yang dalam perjalanan dinas nampak dalam balutan busana kantor yang casual maupun elegan,  yang berwisata ngga jauh berbeda dengan yang terlihat di Bali. Aku  pun dapat menemukan banyak wanita yang memakai kain sari, karena banyaknya pekerja asal India maupun Nepal disini. Jadi bisa bayangkan, kalo kamu sedang jalan di mall, semua orang-orang itu bercampur menjadi satu – dan kamu seperti sedang mengganti-ganti channel TV, kemudian melihat orang dengan busana, tipikal wajah dan tubuh serta ekspresi berbeda-beda yang muncul dalam hitungan sekian detik.

Dan meskipun sentuhan modern memasuki Dubai, tetap saja penduduk setempat yang bekerja di kantoran tetap memakai pakaian tradisional mereka. Memang sih..sudah ada kantor yang juga memaklumi jika pria dan wanita menggunakan jas/ blazer dan celana panjang, tapi tetap saja wanita nampaknya belum diperkenankan ke kantor dengan rok pendek -- biasanya mereka dengan rok panjang atau celana panjang. Di Abu Dhabi pun, suasana kantor masih agak lebih konservatif, demikian pula dengan pakaiannya. Setauku, ada 1 tempat bernama Sharjah (aku pun belum pernah kesana). Aku dengar disana peraturan cukup ketat. Bahkan pria pun disana dilarang menggunakan celana pendek! Sedangkan wanita, semuanya harus tertutup -- termasuk jari-jari -- kecuali mata…huff….Aku ngga berharap ada disana… Dan seperti yang kukatakan sepanjang tulisan ini, karena memang lazimnya didominasi warna hitam dan putih, maka kain hitam dan putih disini pun tidak akan pernah kehilangan pangsa pasar
J

Melihat sikap mereka yang konvensional tentang budaya berpakaian punya nilai tersendiri bagiku. Pastinya di masa lampau, menggunakan kostum seperti mereka itu menyiksa sekali (mungkin bagi mereka tidak, tetapi bagi orang-orag yang tidak terbiasa sepertiku, ya..). Tapi kini, Timur Tengah sudah dimanjakan oleh AC, jadi tidak masalah…O, ya…penggunaan abaya dan kandura mungkin adalah suatu kebanggaan. Justru para pendatang dan yang bukan warga negara teluk dilarang untuk menggunakan kostum ini (lihat bagaimana mereka membuat penggunaannya justru terkesan eksklusif)

MEMAKAI ABAYA BUKAN BERMAKNA RELIGIUS






Seperti yang kukatakan sebelumnya, menurutku unsur kebanggaan sebagai warga teluk lebih menonjol ketimbang unsur religius dalam penggunaan abaya dan seluruh perangkatnya. Berbeda dengan penggunaan jilbab, maupun hingga 1 set dengan baju panjangnya dan cadar, di Indonesia yang membuat seseorang lebih dituntut untuk soleh, di Dubai tidak ada ‘tekanan’ semacam itu. Contohnya saja, jika ada orang yang memaknai abaya digunakan hingga semata kaki dan longgar, untuk menutupi aurat dan tidak menonjolkan kemolekan tubuh wanita, maka awalnya pasti heran kalau melihat abaya di Dubai banyak yang dimodifikasi -- yaitu dengan belahan rok memanjang di depan.

Pernah suatu kali aku terkejut, karena melihat seorang wanita menggunakan abaya dengan rok
berbelah, dan kau tau apa yang menyembul di balik abayanya……..celana ketat warna
emas mengkilat! (aku rasa dibandingkan melihat seorang wanita dengan celana
pendek, pemandangan itu lebih menarik perhatian pria…Jadi kau bisa lihat, itu malah seperti ajang “pamer aurat”). Aku juga melihat beberapa remaja dan wanita menggunakan abaya dengan celana jeans skinny menyembul di balik kain yang ia kenakan. Dan yang lebih unik lagi – wanita-wanita ini pun turut memenuhi pusat perbelanjaan pakaian seperti Zara, H&M, Mark&Spencer, Oysho, dkk serta tertarik untuk mencoba gaun-gaun mini dan mencari tank top! Jadi bisa diduga hadirnya butik Victoria secret, Lingerie, Adidas, Reebok, bahkan berbagai produk yang ada di fashion TV, bukan hanya untuk menarik minat beli turis yang singgah disini, tetapi juga untuk para penduduk setempat. Aku ngga tau apakah mereka membelinya hanya untuk ‘fashion show’di rumah atau menggunakannya di balik abayamereka. Yang jelas, adalah hal yang wajar pula jika melihat wanita-wanita dengan abaya menenteng tas LV, Hermes, dan tas blink-blink lainnya serta menggunakan high-heels dengan warna senada. Jadi, untuk Dubai, penggunaan abaya dan perangkatnya yang hanya 1 warna pun tidak diidentikkan dengan kesederhanaan.

Jika malam hari sedang nongkrong di café-cafe, kamu bahkan bisa menemukan wanita-wanita
ini pun cekikikan bercerita sambil menghisap shisha -- sejenis rokok dengan pipa
besar yang menggunakan jenis rasa tertentu dan dibakar dengan arang. Jadi memang
pakaian tidak bisa digunakan sebagai takaran penilaian seperti yang sebelumnya
digunakan. Lagi-lagi, aku tekankan ini bukan bentuk judgement, lho… aku hanya mau menunjukkan adanya pemaknaan yang berbeda dengan yang aku (dan sebagian orang Indonesia) terima selama ini… apakah penyebabnya? Entahlah…  Mungkin giliranmu untuk memberitahu jawabannya….



P.S: o, ya…sebagai tambahan,  ada satu hal yang lucu. Di beberapa mall dan tempat umum, kamu akan menemukan himbauan yang tertulis di layar LCD atau papan agar pengunjung diharapkan berpakaian sopan -- disertai gambar baju wanita terusan. LOL:D!!! Himbauan yang nyaris ngga berfungsi...... ƪ(ˇ_ˇ'!)

O, ya…lagi-lagi aku ada catatan menarik…selain ada papan yang menunjukkan aturan berbusana, ada juga peringatan larangan merokok dalam mall. Di bawah gambar rokoknya ada tulisan “serial killer”, hahahahahahahahahahahaha………..

Dubai: Dancing Fountain


Pernah melihat dancing fountain?? Beberapa mall di Indonesia mulai membuat hiburan dancing fountain. Bahkan di tempat hiburan Pulau Sentosa, Singapore, ada dancing fountain. Tetapi semuanya terlihat tidak berarti jika dibandingkan dengan dancing fountain nya Dubai Mall….asli…
 Nyaris ngga ada 1 pun pengunjung yang mau melewatkan pertunjukan dancing fountain– termasuk aku. Paling engga mereka harus menyaksikannya sekali… dan setelah nonton sekali, maka jadi penasaran dan ketagihan, kemudian menunggu pertunjukkan dancing fountain berikutnya. Dalam 1 hari paling engga ada 9 kali pertunjukkan dancing fountain, dimulai pukul 6 sore, dan selanjutnya pertunjukan akan selalu ada setiap 30 menit – hingga yang terakhir jam 10 malam.

Satu kali pertunjukan dancing fountaindurasinya kurang lebih 3-5 menit – tergantung lagu yang dimainkan. Ada lagu barat, ada juga alunan lagu Timur Tengah. Salah satu lagu barat yang ku tau dimainkan di performance dancing fountain adalah “The Prayer”yang dinyanyikan Celine Dion dan Bochelli. Tapi menurutku goyangan dancing fountain akan terkesan lebih gemulai dan seksi jika mengikuti irama lagu Timur Tengah (mungkin karena orang Timur Tengah nyanyi ada ‘çengkok-cengkok’nya – kayak lagu dangdut).

klo semburannya aja sebesar itu, bisa bayangkan pertunjukannya seperti apa??!!
Pertama kali aku melihatnya, aku benar-benar terpesona. Bagaimana mungkin ada orang yang benar-benar mau bersusah payah untuk menyesuaikan gerakan dan tekanan air dengan irama beberapa lagu!!! (orang yang mu membuatnya untuk 1 lagu saja sudah kuacungi 2 jempol!). Aku tidak tahu apakah orang yang bekerja di balik ini adalah musisi, tekhnisi atau apa… Yang jelas mba Shinta, salah satu warga Indonesia yang bekerja disini, pernah cerita bahwa perancangnya adalah orang-orang dari Jerman dan mereka sempat menginap di hotel Al-Manzil. Yang lebih menarik lagi, si dancing fountaindibuat 1 paket dengan si Burj Khalifa. Jadi setiap pertunjukan dancing fountain dimulai, maka Burj Khalifa juga akan mengeluarkan cahaya kedap-kedip seakan ikut menikmati alunan music bersama. Bangunan beton yang tingginya hampir 1km yang awalnya terlihat kokoh itu kemudian jadi terlihat genit, hihihihihihihi……..

Pernah suatu kali aku bersikukuh untuk merekam 3 pertunjukan dancing fountain dalam 1 hari. Jadi aku, Yudi, dan Timmy menunggu cukup lama sambil nongkrong di café bersama Mas Mulyana dan mba Shinta yang kami buat geleng-geleng kepala melihat antusiasme kami terhadap hal-hal yang ngga bisa kami dapati di Jakarta..

Tapi memang merekamnya tidak semudah bayanganku. Pertama, aku harus berkompromi dengan ipod yang resolusi cahayanya kurang bagus untuk merekam di tempat yang kurang cahaya – sedangkan pertunjukan dancing fountain bergulir seiring larutnya malam. Kedua, penontonnya banyak bangetttss! jadi beberapa saat sebelum pertunjukan dimulai, kita harus sudah booking spot untuk merekam dan menunggu disana – takut-akut tempatnya diambil orang. Itu pun tetep beresiko gambar ‘bocor’muka atau tangan orang lain yang ada di depan atau kanan-kiri kita yang sedang melakukan aktivitas yang sama. :( Dan akhirnya, aku berhasil merekam beberapa pertunjukan dancing fountaindengan banyak ‘kebocoran’—termasuk jari ku sendiri yang beberapa kali menutupi lensa, hehehehehe….

P.S: aku sedang berusaha mengupload videonya....tapi sulit sekali...mungkin untuk sementara digantikan foto:p