Halaman

Selasa, 02 Oktober 2012

Bahrain: Membaca Situasi Manama


Kali ini adalah kisah liputanku bersama teman-teman saat Krisis Timur Tengah terjadi. \Demonstrasi melanda sejumlah negara, termasuk Bahrain. dan kesanalah kami ditugaskan....

Setelah sempat transit di Dubai, akhirnya aku, Timmy, dan Yudi bisa pergi ke Manama, Bahrain--karena akhirnya visa kami keluar. Masalahnya adalah, terjadi kesalahan prosedural sehingga visa Timmy tersedia di Manama dan bukan di Dubai. (hebat, y…visa Timmy bisa terbang duluan (o__O)…..)

Kami pun bingung. Jadi skenario yang ingin dilakukan adalah, kami ke bandara dengan hanya membawa 2 visa -- punyaku dan Yudi, lalu menjelaskan pada maskapai penerbangan kami, Gulf Air, bahwa visa Timmy akan diantarkan seseorang ke bandara di Manama... Haloooooo...siapa yang akan percaya???!!! Perlu diketahui bahwa peraturan di negara-negara Timur Tengah ketat sekali--totally different, if you compare it with our own country. Pelarangan peliputan jenis apa pun di Dubai adalah hanya 1 dari sekian contoh ketatnya peraturan disini.

Dan itulah yang dilakukan si petugas Gulf Air (yuppsss…kami pake Gulf Air ke Manama). Dia ngga ngijinin Timmy terbang sebelum ada konfirmasi dari Gulf Air di Manama. Jadilah aku dan Yudi terbang duluan ke Manama, sedangkan Timmy terbang melalui jadwal penerbangan berikutnya. Aku sebenarnya agak cemas dengan situasi itu, karena kami berangkat dengan banyak sekali peralatan peliputan. Dan sebenarnya, aku berharap Timmy yang bisa menjelaskan keberadaan barang-barang tersebut apabila ada petugas bandara yang mempermasalahkannya.
peta Bahrain

Setiba di Manama int'l airport, yang aku takutkan terjadi. Petugas bea cukai mempertanyakan barang-barang yang kami bawa. Ada beberapa pertanyaan yang diajukan--dan aku malas menjabarkannya--tetapi yang jelas berujung pada penahanan beberapa barang -- kevlar dan helm anti peluru, serta peralatan untuk live lainnya -- di bea cukai. Untungnya laptop masih bisa diselamatkan untuk membantu live via skype.

Tidak mau pusing dengan hal itu, aku dan Yudi bertemu dengan fixer kami yang bernama Suheir. Di luar dugaan, Suheir adalah perempuan (aku kira dia laki-laki). Dia meminta maaf karena kesalahan prosedural yang menyebabkan Timmy tertunda keberangkatannya. Lebih daripada itu, ia menerangkan jadwal wawancara untuk kami dengan beberapa orang tokoh di Bahrain dan menerangkan latar belakang masalah yang berlangsung di Bahrain saat ini.

Terus terang saja, penjelasan Suheir tentang situasi saat ini kurang memuaskan, karena cukup jauh berbeda dengan berita yang kami terima dari CNN, BBC, maupun yang kami dapatkan via portal dan update twitter penduduk local. Aku rasa karena Suheir memang orang yang pro-pemerintah. Jadi daripada mendengarkan ceramahnya yang menjadi sudut pandangnya sendiri tentang negaranya, aku lebih prefer memberi penilaian pribadi tentang dirinya (wanita cenderung begitu;) )

Suheir menurutku adalah salah satu typical wanita karier di negeri per-arab-an ini. Ia berbusana kasual dengann blazer dan celana panjang layaknya pekerja kantoran. Usianya kuperkirakan sudah mencapai 30-an tahun, dan dia belum menikah. Aku rasa itu adalah ‘harga yang dibayar’seorang wanita arab yang memilih berkarier, karena meskipun wanita arab pun rata-rata menempuh pendidikan tinggi, tetapi tidak banyak yang mengambil keputusan untuk bekerja secara mandiri hingga setelah menikah (nampaknya cara yang ditempuh masih cukup konservatif – menjadi ibu rumah tangga dan, sebisa mungkin, menikah dengan pria kaya). Nah, yang jelas, Suheir bukanlah tipe wanita seperti itu. Menurut penilaian awalku, ia pintar, tegas, cekatan, supel. Sayangnya, frame yang dia tentukan untuk kami pakai melihat situasi Bahrain sedikit menggangguku.
tank-tank ditempatkan di tepi jalan raya
I know what all of you looking for ‘cause I was working in media…”, katanya seakan membaca pikiran kami tentang keinginan untuk melihat kerusuhan yang terjadi di Bahrain. Okay…berarti dia tau tujuan kami sebenarnya, maka ini akan menjadi sedikit sulit. Kuharap Timmy nanti bisa mengurusnya, karena dia adalah leader tim kami.

Sekarang, kembali pada Timmy yang sempet tertinggal di bandara Dubai…Sekitar 2 jam berikutnya Timmy tiba di Manama. Dia bilang walky-talky kami pun ditahan bea cukai. Urghh…okay, lah.. lagi-lagi, tidak mau dipusingkan dengan hal itu. Kami pun memilih untuk keliling kota melihat situasi – untuk kemungkinan perencanaan liputan -- sambil mensetting blackberry kami dengan nomor setempat. Untungnya aku sudah membeli 3 nomor dengan setting blackberry sebelum keluar dari bandara. So...tinggal pasang..:)

Berkeliling Manama memang membuat hati bergidik. Polisi dan tentara ada dimana-mana. Bahkan di beberapa sudut jalan, terdapat tank-tank besar dengan tentara yang stand by berjaga di atasnya – bersenjata, dengan posisi siap menembak. Aku bahkan tidak berani untuk sekedar mengeluarkan ipod untuk mengambil foto-foto suasana dari jendela mobil kami…Gilaaa…seumur-umur, aku baru kali ini melihat kesigapan seperti itu. Apakah harus sampai seperti itu untuk menghadapi demonstran yang adalah warga sipil???
protes di Pearl Square pada Feb 2011




Namun setelah kurenungkan, memang itu masuk akal. Hal apakah yang mungkin kau lakukan untuk mempertahankan negaramu yang luasnya hanya sekitar 765 km2??? …yang hanya seluas DKI Jakarta ??? Well, yahh…sikap lebay itu masuk akal.
Pearl Square rubuh pada Maret 2011

Supir kami tidak bisa mengantar kami berkeliling hingga larut malam. Kondisi kota yang dinilai tidak kondusif menyebabkan diberlakukannya jam malam, yaitu jam 8 p.m. hari ini pun kami belum bisa mendekati lokasi Pearl Square – yang menjadi pusat berkumpulnya demonstran sebelumnya – yang telah rubuh. Lokasi Pearl Square sekarang dijaga ketat aparat. Sebenarnya kami ingin sekali pergi ke beberapa tempat yang menjadi kampong warga Syiah, namun untuk sementara waktu, jalan kesana dari Manama kini tidak boleh dilewati turis. Hanya warga local yang boleh kesana, itu pun dengan pemeriksaan KTP, isi mobil, dan pemeriksaan badan. Huff… aku rasa liputan kami akan sangat sulit…

sumber foto: google

Kamis, 27 September 2012

Suatu hari: kaum Jetset Dubai


Burj Khalifa di malam hari
Jadiii...di Dubai itu banyak banget orang kaya. Mobil BMW, Porsche, Chevrolet itu bisa banyak didapatin di jalan. Demikian juga Jaguar, Aston Martin, Hammer, Land Cruiser…semuanya ada. Kayaknya mobil jelek nyaris ngga ada. Seandainya ada, ngga mungkin karatan kayak bemo ato angkot di Jakartadan Jogja (maaf…ini sekedar ungkapan fakta tanpa maksud apa-apa, lho..).

Rumahnya pun besar-besar. Rumah di daerah Puri dan Pondok Indah, Jakartayang menurut kita sudah mewah banget,  ternyata terhitung banyak yang punya di kotaini. Bahkan masih ada yang lebih elit, yang rumahnya kayak istana negara! Golongan ini tinggal di bagian Dubaiyang dekat dengan daerah Palm Jumeirah resort, deket salah satu bangunan megah bernama Burj al-Arab. Burj al-Arab adalah hotel bintang 7 (selama ini kamu cuma tau hotel bintang *****, khan…) di Dubai yang sempat menjadi icon kota ini sebelum munculnya  Burj Khalifa, di daerah downtown Dubai.
Burj Khalifa di siang hari

Nahh..orang kaya yang aku maksud memiliki rumah-rumah ini rata-rata adalah keluarganya raja. Saking luasnya arena rumahnya, bisa kayaknya buat jadi lapangan upacara...Gerbangnya gede banget dan ada penjaganya. Rata-rata tentunya pintu gerbang berdiri kokoh dan tertutup rapat. Pas nengok ke salah satu 'istana' dengan pintu gerbang yang terbuka, ternyata ada jalan masuk yang panjang -- kurang lebih sampe 50 meter ke dalam gitu, baru deh sampe ke bangunannya yang segede-gede istana (seperti di film Princess Diary). Lalu, ada juga orang kaya yang ‘ekstrim’. Entah karena dalam rumahnya udah ngga ada area parkir ato gimana, akhirnya perahu yacht nya ada yang ditaruh di pinggir jalan depan rumah, hadoohhh….bisa menimbulkan kecemburuan sosial itu….(*__*)

tempat kaum jetset menyandarkan kapalnya di Abu Dhabi
Memang semua itu terlihat sagatlah ekstrim…apalagi klo dibandingkan dengan rumah-rumah para pekerja Iran yang tinggal di ruko-ruko, atau tenaga kerja Nepal, India, dan Asia yang tinggal di apartemen kecil… Setidaknya gaya hidup et set itu membuktikan 1 hal: bahwa salah satu sifat alamiah manusia adalah tidak mengenal kata “puas”….semua orang pengen jadi raja. Hmm…seandainya saja para orang kaya Dubai ini sebijak pedagang keturunan china dalam mengelola uang.
Lepas dari itu, karena mereka pun mengakui bahwa mereka bukanlah Negara demokrasi, kejomplangan kelas social itu seakan sah untuk menunjukkan “siapa tuan rumah di Negara ini”, dan itu masuk akal. Jadi, apakah masih berpikir bahwa demokrasi adalah system terbaik…??






Suatu hari: Zimbabwe, Angola

pedagang koran di perempatan lalu lintas Harare

Pertama kali melihat suasana di Afrika di pagi hari... Menyaksikannya bagiku, meskipun hanya sekilas pandang dari dalam mobil yang melaju, seperti menonton langsung acara “Inside Africa”.
Kayaknya kita memang ngga bisa menyamakan semua negara Afrika dalam kondisi yang sama..seperti hal nya klo kita pergi ke Indonesia, Singapura, dan Malaysia.. Meskipun ketiga negara tersebut berdekatan, tetap saja berbeda dari segi perkembangan pembangunan dan tehnologi. Demikian juga yang aku lihat hari ini… Meskipun aku sering mendengar Afrika yang terbelakang dan kelaparan, tapi nampaknya tidak disini…di Harare.

Sebagai ibukota dari Zimbabwe, menurutku Hararetermasuk lumayan maju. Meskipun penduduknya masih jarang -- terbukti dari masih banyaknya tanah kosong dan luasnya savana di kanan-kiri jalan-- tetapi rata-rata semua fasilitas sudah tersedia. Adapom bensin, pasar, gallery kota. Rata-rata penduduk pun memiliki rumah yang besar dengan halaman luas. Mobil-mobilnya pun bagus-bagus -- buatan Eropa. Gedung-gedung sekolah dan gereja berukuran besar dan tinggi. Salah satu yang kulihat saat perjalanan keluar hotel menuju bandara adalah Elizabeth Capel.

Pagi ini, di sepanjang jalan banyak anak-anak berseragam rapi berangkat sekolah. Menurutku bahkan baju seragam mereka jauh lebih keren dibandingkan yang di Indonesia. Kalau di negara kita seragam hanya berwarna merah-putih (dan beberapa sekolah swasta punya motif lain). Sedangkan yang kusaksikan disini anak-anak menggunakan seragam dengan motif cerah – memang lebih mirip seragam-seragam di sekolah Khatolik, sih..
Aku cenderung ngga bisa bedain yang mana anak laki-laki, yang mana anak perempuan, kecuali dari rok dan celana yang mereka pakai. Wajah mereka terlihat mirip dan semuanya berambut pendek dan ikal (mungkin semi kribo). Ternyata di Afrika perempuan biasa berpotongan rambut pendek hampir plontos, layaknya laki-laki.

salah satu papan reklame Luanda
Wanita-wanita dewasa yang terlihat di jalan mengingatkan aku pada novel “ The No.1 Ladies' Detective Agency” -- tentang detektif wanita asal Afrika yang tinggal di Bostwana, bernama Precious Ramotswe yang cerdas dan sangat mencintai keaslian wujud orang-orang Afrika. Dalam novel itu Mma Ramotswe digambarkan sebagai wanita yang cantik bagi kalangan Afrika -- berbadan besar dan tambun, dan suka mengenakan baju longgar, dengan corak warna-warni mencolok yang didominasi warna orange dan hijau-- dan wanita seperti dia lah yang kusaksikan di pinggir-pinggir jalan kota ini.

Aku hanya sebentar di Harare. Perjalanan akhirnya dilanjutkan ke Luanda, Angola. Membutuhkan waktu 2 jam perjalanan pesawat kesana.

jalanan macet di siang hari
Bicara tentang Luanda, inilah kota di Afrika Barat yang sudah tersentuh oleh budaya barat -- pembangunan disini nampak lebih terlihat dibandingkan di Harare. Dari segi pembangunan, mungkin bisa diumpamakan seperti Jakarta era 80an-90an -- ada fly over, under pass, papan reklame dimana-mana, dan pejalan kaki yang menyebrang sembarangan. Mobil-mobil berjejalan di jalan, menyebabkan kemacetan di siang hari yang terik dengan suhu 32 derajad celcius. Jika melihat sekeliling kota, kondisinya agak mirip dengan film "Hotel Rwanda" (semoga aku tidak salah menggambarkannya, tapi kurang lebih sperti itu)

Herannya, ada banyak mobil yang diparkir di pinggir jalan dalam kondisi tidak beraturan. Ngga ada garis area parkir -- dan aku meragukan ada tukang parkir. Membuatku berpikir bagaimana jika salah seorang yang punya mobil itu mau keluar, tetapi mobilnya terhalang mobil orang lain... Karena kebanyakan penduduk menggunakan mobil Eropa, setir mobil berada di bagian kiri. Sempat membuatku agak bingung, karena mobil disana pun berjalan di jalur kanan (kalo di Indonesia kan kiri,ya..).

Nahh..sebagai kota yang sudah tersentuh budaya barat, pemuda-pemudi disini sudah ‘tersentuh’ tata busana ala barat juga...mulai dari pakain dan bentuk tubuh. Baju ketat, jeans, kaos, high-heels, topi kupluk, etc. Kamu dapat melihat orang bergaya seperti Craig David dan Beyonce dimana-mana. But believe me, Beyonce yang terbaik dari semuanya...

Sayangnya aku ngga lama di Luanda -- jadi ngga sempat belajar banyak tentang budayanya. Yang aku tau mereka baru mulai membangun pada 1992. Sebelumnya mereka sibuk dengan perang saudara. Oleh karena itulah saat ini masih masa-masa membangun bagi mereka, sehingga mereka ngga menginginkan adanya konflik yang mengganggu stabilitas keamanan di negara mereka. Meskipun begitu, aku mendengar masih ada budaya-budaya yang bersifat destructive yang masih diplihara oleh penduduk setempat, antara lain mengutamakan memiliki mobil mewah ketimbang rumah yang mapan, dan mabuk-mabukan di malam hari.



Senin, 23 Juli 2012

Everest: hari 31

Perpisahan, dimana pun dan kapan pun, selalu terasa berat. Meskipun sebenarnya tidak berharap tinggal lebih lama di Khatmandu, tetap saja berpisah dengan teman- teman Nepal kami terasa menyedihkan. Sepanjang perjalanan kami di Himalaya, mereka selalu menolong dengan tulus. Yahh....mungkin kita bisa mengatakan itu adalah tugas mereka....karena mereka adalah guide, sherpa, porter yang dibayar untuk mengerjakan tugas mereka..... Tapi tetap saja, keramahan dan pelayanan mereka melampaui apa yang kami harapkan.
kota Khatmandu yang padat dengan bangunan-bangunan pendek

Tidak hanya sepanjang perjalanan di Himalaya, namun juga selama di Khatmandu. Beberapa kali Kitab dan Purna membantu mengurus barang-barang kami yang datang terlambat dari Lukla atau sekedar menemani kami berjalan-jalan, meskipun mereka ngga dibayar untuk itu. Mereka tidak memungut biaya untuk itu. Yang ada hanya seperti jalan-jalan bersama teman saja.

Hari ini kami ke bandara ditemani Purna. Ia sendirian, karena  Kitab sedang mendaki gunung Anapurna bersama klien pendaki Inggrisnya. Purna sudah menjemput kami di  penginapan sejak jam 8, meskipun pesawat baru akan terbang jam setengah 2 siang; dan kami baru meninggalkan penginapan jam setengah 11 siang.

Sesampai di bandara, Purna mengucapkan selamat jalan kepada kami sembari mengalungkan kain putih, pertanda mendoakan keselamatan penerbangan kami. Tentu saja kami surprise sekali.....untuk yang kesekian kalinya, dia bukan hanya memposisikan sebagai guide kami. Ia sudah menjadi teman kami. Bagaimana pun juga, aku secara pribadi merasa akan selalu mengingat Kitab, Purna, Tes, Lal, dan Dawa....dan teman-teman lainnya.

Dan saat pesawat akan membawa kami terbang meninggalkan Khatmandu, hujan baru saja berhenti. Aku menyempatkan diri menengok ke kaca jendela....menyampaikan selamat berpisah pada gedung-gedung Khatmandu yang berwarna- warni...yang terlihat semakin mengecil di bawah sana.....

sumber: google









Everest: hari 30


Dipendra, sang putra Mahkotta
Hari ini aku puas-puasin mataku untuk memandangi Khatmandu dan jalan-jalannya. Soalnya minggu depan, jangankan menceritakan petualangan selama disini keteman-teman, aku pastinya sudah kembali berkutat dengan liputan dan kemacetan Jakarta yang ngga ada habisnya. Lucu rasanya, tapi setelah dipikir-pikir, aku seaka baru menemukan betapa uniknya Nepal ini….

Nepal, negara yang tanpa laut, karena terkurung daratan di Asia Selatan -- ada China di utara serta India di barat, timur, dan selatan. Penduduknya nampak berjuang menghidupi dirinya sendiri, seakan pemerintah ngga sanggup melindungi mereka. Apakah kisah mereka bisa disamakan dengan kebanyakan negara-negara Afrika yang masuk golongan collapse states?? Entahlah…dari segi pemerintahan mungkin saja, tapi nyatanya penduduknya masih dapat hidup layaknya masyarakat dunia ketiga pada umumnya. Kota tidak dikuasai oleh mafia, tidak ada kisah penyergapan di truk-truk makanan di perbatasan, tidak ada anak di bawah umur yng dipaksa jadi tentara bayaran. Nepal menjadi salah satu negara yang maju dalam bidang pariwisata. Bayangkan, kami para turis tetap menikmati suasana wisata di Nepal meskipun sesungguhnya iklim politik negra ini sangat tidak sehat.

pemakaman keluarga Raja
Awalnya, Nepal berstatus protektorat setelah dikalahkan Inggris pada perang di tahun 1815. Kemerdekaan Nepal diakui Inggris pada tahun 1923 (lebih lama dari Indonesia, donk…). Namun tahun 1990, Nepal menjadi negara monarki konstitusional. Tetapi euphoria demokrasi yang terjdi di awal 90an telah melanda seluruh dunia, tidak terkecuali masyarakat Nepal. Dan karena tidak bisa membendung semangat demokrasi, raja akhirnya setuju membentuk parlemen multi partai. Tahun 1996 muncul gerakan maois (dari partai komunis Nepal) yang menawarkan menggantikan sistem parlementer kerajaan dengan republik sosialis rakyat, namun dengan cara kekerasan. Munculah perang saudara pemberontakan bersenjata yang menyebabkan korban 12000 orang.

masyarakat yg berduka saat keluarga Raja dibunuh
Peristiwa tragis sekaligus sangat menentukan terjadi pada 1 juni 2001. Terjadi pembantaian keluarga kerajaan. Raja Birendra, Ratu Aiswarya, putra mahkota Dipendra dan 7 anggota kerajaan lain dibunuh. Hingga hari ini, pelaku pembantaian masih menjadi misteri. Cerita yang beredar menyatakan pembantaian dilakukan oleh putra mahkota Dipendra yang marah besar dan menggila, karena calon istrinya tidak disetujui oleh Ratu Aiswarya, dan setealh menembak keluarganya Dipendra pun bunuh diri. Namun banyak pula masyarakat Nepal yang mergukan kisah ini, karena mengenal sosok Dipendra sebagai orang yang bersahaja dan calon pemimpin mereka di masa mendatang. Setelah pembantaian, Gyanendra ( saudara Birendra yang lolos dari pembantaian karena sedang ada di luar negeri) mewarisi tahta.

Royal Palace di malam hari
Gerakan demokrasi terus bergulir. Pada 2006, gerakan demokrasi ngga terbendung memaksa raja untuk melepaskan kekuasaan berdaulat kepada rakyat. Dibentuklah semacam DPR yang akhirnya sepakat membatasi kekuasaaan raja, menjadikan Nepal sebagai negara sekuler dan bukan lagi kerajaan Hindu. Saat itu, berakhir sudah kisah Nepal sebagai satu-satunya kerajaan Hindu di dunia. Pada 28 mei 2008, diputuskan untuk membentuk pemerintahan baru, Nepal menjadi republic federal yang sekuler. Yang paling tragis sebagai keputusan kisah ini adalah raja diberi waktu 3 hari untuk mengosongkan narayanhiti royal palace, yang menjadi tempat tinggal keluarga raja selama ini di Khatmandu!!!! Bo…raja diusir dari rumahnya sendiri, bo…!! Sekarang istana raja itu  jadi museum yang terbuka untuk umum, menyedihkan sekali….



keluarga Raja Nepal kini tinggal kenangan..


Aku menghirup udara dalam-dalam sambil menatap langit senja yang mulai datang. Kulihat kesibukan pedagang masih terlihat di ruko-ruko Thamel. Adakah kenangan tentang nsib keluarga raja hinggap di benak mereka? Apakah mereka menganggapnya sebagai pengalamn traumatis, ataukah mereka adalah salah satu pendukung gerakan maoisyang memang menginginkan bubarnya keluarga raja? Entahlah….mungkin bahkan mereka ngga peduli dengan apa yang terjadi….karena mereka sibuk berjuang untuk mereka sendiri….karena mereka hidup di suatu negara dengan pemerintah yang tak berdaya…



sumber foto: google

Everest: hari 29


Nampaknya hari ini menjadi hari perburuan oleh-oleh. Dari pagi sampai malam kami hanya memutari pertokoan di Thamel. Sebenarnya aku sama sekali ngga keberatan melakukannya. Tapi godaan untuk berbelanja disana terlalu tinggi -- bahkan di saat kau berjanji tidak akan mengeluarkan se peser pun uang lagi, kau akan tetap mengeluarkannya. Aku pun harus menyiasatinya dengan meninggalkan sejumlah uang di hotel, dan hanya membawa sedikit di dompet...
Ngomong-ngomong tentang berburu oleh-oleh, aku sebenarnya agak bingung dengan selera teman-teman seperjalananku yang semuanya adalah laki-laki ini. Mereka sangat suka membeli kukri sebagai oleh-oleh. Meskipun aku akhirnya juga ikut-ikutan membelinya, aku ngga mengerti kenapa setiap dari mereka bisa membeli lebih dari 3 kukri, hingga membeli kukri ukuran jumbo yang dapat kau sandingkan dengan pedang Tessaiga-nya Inuyasha.

Menjelaskan kukri itu seperti apa, ya…??? Kukri, kadang dieja kukuri atau khukri, adalah senjata yang dimiliki oleh warga laki-laki Nepal. Dalam masyarakat tradisional, laki-laki membawa kukri selalu bersamanya -- entah untuk berladang, menyabit tanaman liar di hutan, atau bahkan melindungi diri dari penjahat atau binatang. Kan dulunya orang Nepal banyaknya berladang….Tapi, entah bagaimana cerita detailnya, kukri juga dibawa oleh resimen gurkha (tentara bayaran yang dibentuk oleh Inggris di darah himalaya) sebagai salah satu senjata andalan. Semasa zaman kolonial sewaktu terjadi Perang di Nepal, Inggris membentuk pasukan Gurkha bekerja untuk East India Company di India dan British Army. Istilahnya jadi tentara bayaran gitu deh… Mereka digaji layaknya tentara Inggris. unit sendiri dengan nama Brigade of Gurkha. Gurkha terkenal dengan kemampuan berperangnya yang alamiah, agresif di medan pertempuran, tidak takut mati, loyalitas yang tinggi, tahan dalam berbagai medan, fisik yang kuat dan pekerja keras. Sehingga Gurkha begitu disegani oleh kawan, ditakuti oleh lawan.(latar belakang kisah ini pun ada sejarahnya lagi….panjang bangettt….). Nahhh salah satu kisah bagaimana para Gurkha sangat memfungsikan kukri adalah Sewaktu PD II di front pertempuran Tunisia (Afrika Utara). Saat itu, pasukan Gurkha yang sudah kehabisan amunisi justru membuang senapan-senapan, berlarian naik ke atas tank-tank Jerman di tengah-tengah hujan peluru dan menggorok tentara Jerman dengan senjata tradisional mereka, khukri.

Menurut mitos, jika gurkha menghunus sebuah kukri, maka kukri tersebut harus minum darah (membunuh sesuatu) sebelum disarungkan....Bahkan kisah lainnya menceritakan tentang gurkha yang membantai tentara Jepang pada PD II dengan kukri ato membantai Taliban di Afganistan....agak menyeramkan, ya... Tetapi mungkin itulah sebabnya para gurkha sangat bangga dengan kukri mereka.

Bagaimana bentuk kukri? Gagangnya dibuat dari kayu tebal dan berat. Ada juga yang pake gading. Pisaunya dibuat dari baja karbon dengan kerapatan tinggi. Jadi kemungkinan untuk patah teramat sangat kecil. Tapi kalo nebas....beghhh... (ngga bisa dideskripsikan..)

Mungkin semua penuturan di atas yang ngebuat cowo-cowo ngefans berat sama kukri. Tapi pertimbanganku adalah...pertama, kukri itu berat. Jadi ada kemungkinan kami bisa over baggage karena kukri (mengingat bawaan peralatan gunung kami aj udah banyak banget…). Kedua, harganya termasuk mahal untuk oleh-oleh. Seandainya ngotot mau beli, pastinya Cuma buat orang-orang tertentu doank….ngga bias beli buat temen-temen….bisa tekor. Ketiga, kemungkinan bakal ngga lolos di pemeriksaan bandara. Tau sendiri, kan…kebijakan di tiap banadra tuh beda-beda. Meskipun dah tau itu oleh-oleh khas negaranya sendiri mungkin, tetep aja nanti bisa mendasarkan pada rule ini-itu…

Tapi sayang juga, ya…dah jauh-jauh ke Nepal…masa’ g punya kukri barang satu. Ya udah, deh…akhirnya jadi beli 2yang sebenarnya cukup buat motong daging di dapur…

sumber foto: google



Everest: hari 28

Mungkin aku adalah satu dari sekian banyak orang yang masih tidak mengerti dengan hobi mendaki gunung…dan mereka yang menggemarinya. Bahkan setlah mencobanya melalui liputan di Himalaya ini, aku masih tidak menemukan passion nya. Orang sepertiku akan bertanya-tanya, dimanakah letak kenikmatan pergi ke tempat berbahaya dan menguras tenaga?? Tempat dimana suhu, iklim, dan linkungannya bukanlah tempat yang dapat diterima oleh tubuh kebanyakan manusia?!!?? Dan tentunya, para pecinta olahraga mendaki akan memiliki 1001 jawaban atas pertanyaan tersebut…

Gunung-gunung es, seperti Everest, tentunya menjadi dambaan bagi seluruh pendaki di dunia. Dan terbukti ratusan orang dengan bangga mempublikasik

Chiring bersama tim yang berhasil ia bawa ke Everest
an keberhasilan mereka mencapai summit Everest...bahkan menjadi kebanggaan jika mereka bisa mendaki sebagai solo climber.   Publikasi akan mengundang decak kagum dari berbagai kalangan, termasuk sponsor -- dan mereka memang layak untuk mendapatkannya. Tetapi nampaknya banyak oang yang lupa bahwa sehebat apa pun para pendaki macam ini, mereka tidak akan sanggup untuk melakukannya tanpa bantuan para porter yang mendampingi mereka. Para porter menempuh jalan yang sama dengan yang para pendaki tempuh -- bahkan berangkat lebih awal, untuk menyediakan tenda dan tabung-tabung oksigen -- dan mengangkat barang-barang si pendaki. Di saat para porter membawa beban tersebut di tengah salju, si pendaki berjalan 'hanya' dengan beban tongkat dan tabung oksigen yang mereka pakai. Terkadang para porter pun harus mengorbankan tabung oksigen mereka untuk para pendaki yang kepayahan atau kekurangan oksigen di tengah jalan. Jadi sebenarnya siapa yang lebih hebat??? Para pendaki melakukannya untuk nama, tetapi para porter melakukannya untuk memenuhi kebutuhan dapur keluarga mereka saja.

Kenyataan inilah akhirnya yang menginspirasi salah seorang guide kami, Chiring. Ia lahir dari sebuah keluarga miskin di Rowaling, sebuah desa di ketinggian lebih dari 4000 m dpl.  Saat ia kecil, orang tuanya meninggal. Jadi kau bisa bayankan betapa susahnya hidupnya. Paman Chiring memperkenalkan dunia pendakian padanya. Akhirnya Chiring pun termotivasi untuk menjadi seorang pendaki, porter, dan akhirnya menjadi guide.bagi pendaki gunung.

Jika dilihat dari penampilannya, kau tidak akan percaya pria gemuk bertampang polos dan lucu tersebut adalah seorang pendaki. Badannya pun tingginya hany sekitar 165 cm. Tapi Chiring bahkan menantang bahwa ia masih sanggup mengangkat 6-8 tabung oksigen di ketinggian di atas 5000 m dpl....dia benar-benar anak gunung...!
Oh, ya…kembali ke inspirasi Chiring. Dengan bantuan seorang temannya yang adalah jurnalis Inggris (eh…Inggris atau Amerika, ya…???), Chiring membantu menulis buku berjudul “Burried in the Sky”. Cerita besar dari buku ini adalah tentang pendakian gunung K2 (perbatasan China dan India) pada tahun 2008 yang banyak menelan korban jiwa. K2, menurut cerita, memng adalah gunung yang menyeramkan. Kemungkinan kegagalan pendaki yang berujung kematian adalah 1 berbanding 5 dengan yang berhasil. Chiring ikut ambil bagian dalam ekspedisi itu. Ia bahkan berhasil naik kesana tanpa bantuan tabung oksigen!!!
kiri-kanan: Chiring, aku, Hiro
Namun buku itu juga menceritakan perjuangan para porter (Sherpa) dan para pendaki yang menjadi korban dari ganasnya tantangan alam di K2. Jadi, lebih dari sekdar menunjukkan betapa hebatnya manusia yang berhasil menaklukkan K2, ada kisah pengorbanan, luka, dan testimony dari keluarga korban yang ditinggalkan. Tujuan Chiring, melalui buku tersebut, orang-orang tidak hanya melihat gunung sebagai bentang alam yang indah ataupun pendaki yang hebat. Tetapi orang lebih sadar akibat fatal dan resiko yang bias mengintai kapan saja dalam pendakian…yang terkadang bukanlah karena kelalaian manusia. Selain itu, Chiring ingin mengangkat nama para Sherpa/ porter, agar mereka tidak dipndang sebelah mata. Mereka memang dibayar untuk melakukan tugasnya. Tetapi mereka juga manusia, yang memiliki keluarga yang menantikan mereka di rumah…
Mendengar cerita Chiring, hatiku benar-benar terenyuh. Ingin rasanya langsung membeli bukunya. Tapi saat launching perdananya akan di Eropa. Mungkin baru tahun depan masuk Indonesia…huff….