Halaman

Rabu, 13 Juni 2012

Everest: hari 7

Hari ini kami bergerak ke Periche, di ketinggian 4200 meter. Perjalanan terasa semakin berat di ketinggian ini dengan oksigen yang semakin menipis. Untuk menuju Periche, kami tidak melewati jalan sempit seperti biasanya. Kali ini kami melewati padang luas seperti savana. Di padang ini, tidak lagi ditemukan tumbuhan hijau. Yang ada hanya batu, pasir, dan tanaman semak kering. Angin berhembus kencang membuat bulu kudukku merinding. Kuketatkan penutup kepala dari wind- breakerku, agar angin tidak masuk dari sela-sela tengkuk....aku tidak mau sakit masuk angin mengganggu pekerjaan dan perjalananku. Udara terasa sangat kering, sampai-sampai aku bisa merasakan silia di kerongkonganku menggelitik, menyebabkan rasa gatal. Kuteguk air panas dari termos berkali-kali untuk membuat kerongkonganku basah kembali. Kami tiba di Periche sekitar jam 4 sore.
hanya sekumpulan yak yang kami temui di jalan

Di dekat penginapan kami, ada klinik Himalayan Rescue. Sebenarnya klinik Himalayan Rescue tidak hanya ada di Periche, tetapi juga di beberapa desa lainnya. Klinik ini didedikasikan untuk membantu para climber yang sakit di sepanjang perjalanan, termasuk terkena gejala AMS. Jika penyakit yang diderita cukup parah, klinik bisa menelpon untuk meminta bantuan helikopter. Helikopter akan segera datang dalam waktu 15-30 menit saja, dan dapat mengangkut pasien menuju rumah sakit di Kumjung atau di Khatmandu.  Biasanya dokter yang bertugas di klinik Himalayan Rescue adalah dokter-dokter muda, dan berganti-ganti. Mereka akan dirolling dalam durasi waktu per 3 bulan. Aku ngga tau dari mana asal para dokter ini, yang jelas mereka bukan penduduk lokal, melainkan orang barat. Kali ini dokter yang bertugas adalah seorang wanita bernama Maria. Kalau aku ngga salah dengar, dia berasal dari Inggris. Maria membawa serta anjing hitam peliharaannya untuk menemani dia bertugas selama 3 bulan. Aku rasa ini akan menjadi momen-momen yang sulit diterima oleh anjingnya.... 

 Tarif pasien di Himalayan Rescue dibedakan untuk penduduk lokal dan wisatawan. Untuk biaya konsultasi, penduduk lokal hanya dikenakan 100-200 rupee ( sekitar 12,000 a 25,000 rupiah). Namun untuk wisatawan, biaya konsultasi senilai US$50. Apabila kami datang di luar jam kerja, maka biaya konsultasi naik 2 kali lipat. Belum lagi biaya obat dan yang lainnya.  Nampaknya perbedaan harga ini adalah untuk subsidi silang dengan pasien penduduk lokal.  Lagipula penduduk lokal sangat miskin. Meskipun 100 rupee hanya senilai dengan satu cangkir lemon tea di lodge tempat kami menginap, aku rasa 100 rupee sangatlah bernilai bagi mereka. Untungnya, Tuhan sudah memberikan kekebalan tubuh super bagi orang-orang himalaya ini. Tubuh mereka yang sudah beradaptasi dengan ketinggian dan hawa dingin tidak bereaksi 'senorak' tubuh para wisatawan. Mungkin mereka bahkan ngga mengenal gejala AMS. Selain itu, mereka tidak membutuhkan air minum sebanyak kami, hidungnya tidak meler-meler, tidak perlu pula menggunakan baju berlapis-lapis seperti kami, dan tidak perlu memakai sepatu khusus selain daripada sepatu olahraga biasa. Bahkan beberapa kali aku melihat mereka dengan cueknya jalan hanya menggunakan sandal, di saat aku menggunakan sepatu trekking dengan kaos kaki bahan wool tebal. 

 Nilai moral dari semua ini adalah, penduduk himalaya harus bersyukur dengan bakat alamiah tubuh mereka yang mampu hidup dalam kondisi alam yang ekstrim. Sedangkan para wisatawan, sebaiknya jangan sampai sakit di himalaya, jika tidak mau keluar ongkos besar....:p

Everest: hari 6



Hari ini perjalanan kami lanjutkan ke Tengboche. Meskipun jalannya berupa tanjakan, tapi ngga sesusah jalan menuju Namche...ini, terus terang, melegakan...Kami merasa terhibur dengan pemandangan yang menakjubkan, mulai dari bunga rododenron warna-warni, sampai puncak-puncak gunung bersalju.

Sepanjang jalan kami banyak berhenti untuk berfoto ria, terutama di tempat-tempat yang dapat mengambil latar belakang puncak gunung, seperti puncak gunung ama dablam yang terlihat sangat dekat dari jalur trekking kami. Kali ini, yang menarik buatku adalah rumah-rumah penduduk himalaya. Setiap melewati desa demi desa, aku  melihat bahwa rumah- rumah mereka memiliki kesamaan bentuk. Jendelanya selalu berbentuk kotak- kotak dengan bingkai kayu, lalu di cat warna hijau, merah, atau biru (Aku ngga tau alasan kenapa hanya menggunakan 3 warna itu). Lalu rumahnya akan terbuat dari tumpukan batu-batu gunung yang disusun-susun; ngga dicetak dalam ukuran yang sama seperti batu bata.

Nahh...untuk merekatkan batu-batu itu, lagi-lagi, mereka menggunakan kotoran hewan ( sapi, jobke, dan yak)...bukan semen. Lalu dinding ruangan di bagian dalam akan dilapisi dengan kayu.  Di satu sisi, mungkin mereka memang hanya mau memanfaatkan bahan baku dari alam sekitar mereka. Tapi di sisi lain, batu dan kayu menjaga suhu dalam ruangan agar tidak terlalu panas di siang hari, dan tidak terlalu dingin di malam hari. Penggunaan kayu nampaknua diminiamalisir oleh penduduk lokal. Paling engga, kayu hanya digunakan untuk konsumsi pribadi. Mingkin mereka sadar bahwa mengambil kayu secara berlebihan di hutan sekitar himalaya dapat menyebabkan longsor di pegunungan. Desa mereka bisa-bisa terkubur...

 Oh, yahh...bicara soal kebiasaan, ada 1 hal lagi yang bikin aku kagum... Di sepanjang jalan yang kami lewati, nyaris tidak kami temukan sampah! Padahal paling engga puluhan hingga ratusan orang akan melewati jalan setapak di himalaya setiap hari.... Satu-satunya sampah di jalan adalah kotoran hewan (dan nampaknya itu tidak masuk golongan "sampah"). Kesadaran penduduk lokal untuk menjaga kebersihan jalur trekking di sekitar tempat tinggal mereka membuat kami pun sungkan untuk membuang plastik sisa makanan di sembarang tempat. Ada pula kebiasaan yang menyenangkan disini.

Sepanjang perjalanan, kami akan berpapasan dengan trakker asing atau penduduk himalaya yang sedang mengangkut barang. Dan setiap kali berpapasan, kami selalu mengucapkan " namaste...", yang artinya "halo/ hai". Jika disapa, jarang ada orang yang mengabaikan. Mereka biasanya balik menyapa," namaste".... Bagiku pribadi, terkadang  justru satu kata itu menjadi penyemangat saat aku kelelahan di tengah jalan. Bertemu orang baru yang menyapa dengan senyum yang tulus, meskipun tidak dilanjutkan dengan berkenalan, memiliki arti tersendiri sepanjang perjalanan panjang kami. Di kesempatan lain, satu kata itu terkadang menjadi awal dari tukar cerita dan pembicaraan yang sangat panjang dengan trakker lainnya di sekitar pemanas ruangan lodge.

 Aku jadi berpikir, seandainya saja semua tempat wisata di Indonesia masyarakatnya punya kesadaran pariwisata seperti masyarakat himalaya ini, pasti menyenangkan.... Sayangnya, menurutku hanya masyarakat Bali yang memiliki kesadaran demikian, meskipun potensi pariwisata Indonesia terbentang dari Sabang sampai Merauke... Faktor sumber daya manusia memiliki nilai penting untuk menyokong sektor pariwisata suatu negara. Makanya, ngga heran kalau singapura yang kecil aja jumlah turisnya setiap tahun bisa 2-3 kali lipat dibandingkan turis yang berkunjung ke indonesia. Meskipun untuk membangun sumber daya manusia membutuhkan pendidikan, tapi bukankah senyuman dapat dilakukan oleh siapa saja???? Lagipula, kalau bicara tentang pendidikan dan kemajuan bangsa sebagai faktor penunjang pariwisata, seharusnya orang indonesia tersipu malu melihat penduduk himalaya. Negara nepal pendapatan per kapitanya hanya 1/3 pendapatan per kapita indonesia -- kurang lebih sekitar US$ 650 pada 2011 lalu. Tidak banyak dari penduduknya yang terpelajar...apalagi penduduk himalaya. Mengeja huruf di bon saja mereka masih salah-salah. Lingkungan mereka pun terisolir. Tidak ada fasilitas listrik yang tidak mengandalkan solar sel. Kendaraan? Satu motor pun ngga punya. Tapi kalau soal pelayanan terhadap turis, paling engga kalian akan mengacungkan 1 jempol.... Aku rasa ada baiknya anak-anak sekolah pariwisata berKKNria ke himalaya....

Selasa, 12 Juni 2012

Everest: hari 5



Namche adalah tempat yang menarik. Dari semua desa-desa yang terdapat di sepanjang pegunungan himalaya, namche adalah yang paling maju. Namche punya rumah sakit, sekolah, pasar, bahkan punya landasan helikopter.

 Di Namche juga ada museum yang didedikasikan untuk menyimpan peninggalan moyang penduduk asli himalaya, yang sejak awal kukatakan, dikenal dengan sebutan kaum sherpa. Namanya museum Sherwi Kangba. Mumpung dikasi kesempatan tinggal sehari di namche, aku dan anton memilih untuk jalan- jalan sambil liputan di museum.. Untuk masuk ke Sherwi Kangba cukup membayar 100 rupee per orang.

Di museum ini, mereka  menyimpan banyak sekali peralatan dapur dari kayu, batu, dan tembaga...benar-benar kuno. Herannya lagi, yang diabadikan termasuk juga menyimpan tumpukan kotoran yak (hewan sejenis sapi, namun badan dan bulunya lebih tebal) kering!!!! Kotoran yak digunakan masyarakat lokal sebagai bahan bakar, seperti untuk memasak, dan pemanas ruangan. Aku jadi bertanya-tanya, sebenarnya bagaimana cara moyang sherpa pertama kali menyadari klo kotoran yak bisa digunakan untuk bahan bakar,ya??? Kaum sherpa juga punya kotak penyimpanan baju dan makanan yang bentuknya kayak kotak pakaian kotor yang terbuat dari plastik dan dijual di supermarket masa kini. Bedanya, kotak penyimpanan sherpa itu dibuat dari kayu dan disalut kulit yak. Mereka tau bahwa udara dingin seringkali membuat pakaian kering pun jadi basah dan lembap. Jadi, kulit yak menjaga supaya pakaian yang disimpan tetap kering.

 Di museum juga ada ruang khusus berisi foto-foto kaum sherpa yang sudah berhasil mendaki Everest. Jumlahnya mencapai ratusan..! Wajah- wajah kaum sherpa yang terpajang di gantungan foto nampak oriental , seperti orang mongolia, dengan pipi kemerahan. Namun kulit mereka agak kuning kecoklatan, karena terbakar sinar matahari di dataran tinggi. Aku kagum dengan ide -- siapa pun yang mencetuskannya -- untuk memasang foto-foto sherpa yang berhasil mendaki Everest. Itu adalah wujud penghargaan terhadap diri mereka secara pribadi, dan juga terhadap kaum mereka secara khusus.

 Ada foto orang asing pertama yang berhasil mendaki everest di tahun 1953, Edmund Hillary, bersama dengan sherpa yang mendampinginya, Tenzing Norgey Sherpa. Lalu ada juga foto sherpa wanita pertama yang berhasil mencapai Everest, Phasang Lamu, meskipun ia harus tewas karena kehabisan oksigen. Ada sherpa yang berhasil naik ke everest sampai 22 kali...! bahkan ada yang berhasil belasan kali mencapai everest tanpa bantuan botol oksigen.... Kaum sherpa yang hidup bercocok tanam dan menggembala akhirnya turut menganggap misi pendakian everest sebagai mata pencaharian sekaligus suatu prestasi yang membanggakan. Hingga saat ini, menjadi guide, porter, dan pendamping climber menjadi mata pencaharian yang menjamur di musim pendakian. Meskipun harus diakui, bahwa mendaki di gunung-gunung himalaya beresiko sangat tinggi....mereka mempertaruhkan nyawa mereka sendiri. Tapi buktinya, sejauh ini aku belum pernah mendengar ada ekspedisi everest berlangsung tanpa melibatkan kaum sherpa.

Everest: hari 4


 Sebagian besar penduduk Nepal di Khatmandu adalah penganut ajaran Hindu. Namun sebagian besar penduduk Nepal di himalaya adalah penganut ajaran Budha. Aku tidak mengenal kepercayaan penganut budha pada umumnya, sehingga tidak bisa membedakan sejauh mana perbedaan kepercayaan penganut budha di Nepal dan di Indonesia.

lonceng doa di pinggir jalan
 Sepanjang jalan, kami banyak menemukan tumpukan batu bertulis. Jika dilihat, seperti potongan-potongan batu prasasti yang sering ditemukan di situs sejarah di Kalimantan Timur, tetapi ditumpuk-tumpuk sampai tinggi. Guide kami, Kitab, mengatakan bahwa batu-batu itu bertuliskan kata-kata doa yang sering mereka sebut " phuja". Tumpukan batu itu memang sengaja dibangun sebagai tempat persinggahan apabila ada seseorang yang lewat dan ingin berdoa disana, demikian menurut kepercayaan mereka. Berdoa pada siapa? Aku kurang tau pasti, tapi yang jelas pada dewa-dewa yang mereka percaya.
deretan batu phuja

 Uniknya, setiap kali melewati batu-batu phuja tersebut, para warga himalaya akan memilih lewat sebelah kiri. Aku sendiri tidak tau mengapa jalurnya harus sebelah kiri. Suatu kali, ada sebuah batu phuja yang letaknya cukup tinggi, sehingga untuk mencapainya harus menaiki belasan anak tangga dari batu. Saat aku melihat teman-teman sherpa kami menaiki anak tangga itu, aku mengira bahwa itulah jalan yang harus dilewati, maka aku ikut naik. Namun setelah kami mengambil beberapa jepretan foto pemandangan, teman-teman sherpa kami turun melalui tangga batu lain menuju jalan yang sebenarnya bisa ditempuh dengan jalan datar di sebelah kanan. Saat aku bertanya kenapa dia mengambil jalur menanjak, ia hanya menjawab," karena saya menganut ajaran budha.."
bentangan bendera phuja

 Selain batu, ada juga bendera warna warni. Bendera itu digantung membentang di tengah kota dan di jembatan-jembatan yang menghubungkan tebing. Awalnya aku kira itu hanyalah bendera biasa. Tapi setelah dilihat dengan teliti, ternyata di bendera-bendera tersebut ada tulisan doa-doa....ternyata itu pun adalah bendera phuja. Bendera phuja terdiri dari 5 warna: biru, kuning, merah, putih, dan hijau. Setiap warna memiliki makna tersendiri... Biru, lambang dewa penguasa langit Kuning, lambang dewa penguasa bumi Merah, lambang dewa penguasa api Putih, lambang dewa penguasa udara Hijau, lambang dewa penguasa air. Bendera-bendera ini sengaja digantung membentang, karena penduduk himalaya percaya bahwa doa di bendera tersebut akan disebarkan oleh angin ke seluruh penjuru desa. Harapannya, agar semua warga desa bernasib baik. Terlepas kita percaya atau tidak, setidaknya itulah yang mereka percayai...

aliran sungai doth koshi
 Sebenarnya aku mau menceritakan tentang tempat persinggahan kami hari ini: Namche. Tapi aku sedang dalam kondisi bad mood, karena baru dapat pengalaman buruk. Sehabis makan siang di Jorsalle, langit nampak mendung, disusul hujan yang mulai turun rintik-rintik. Kami akhirnya mengeluarkan jas hujan, karena perjalanan harus tetap berlanjut. Perjalanan Jorsalle menuju Namche adalah salah satu rute paling berat, karena tanjakan yang tajam; kemiringan tebingnya mungkin mencapai 60 derajad....atau lebih.. Selain itu, perpindahan lokasi kami hari ini cukup ekstrim, karena naik dari ketinggian 2600 m menuju 3400 m; naik setinggi 800 m. Perjalanan kami di tanjakan itu sungguh dramatis...berjalan mendaki di tengah derasnya hujan, sedangkan kiri- kanan kami adalah tebing yang curam.

penampakan periche dari atas
Napasku tersengal-sengal. Aku beberapa kali berhenti untuk mengambil napas, minum beberapa teguk air, makan apel....tapi tidak banyak membantu. Beberapa kali aku berusaha mengalihkan perhatian dengan melihat ke sungai Doth Koshi yang mengalir deras di bawah sana, berharap aliran gleysernya yang berwarna kebiruan turut menyegarkan perasaan dan semangatku. Tapi yang terjadi justru aku bisa merasakan jantungku berdebar kencang seakan mau copot dari tempatnya, seakan-akan dia bisa loncat keluar melalui tenggorokanku. Dadaku sakit sekali. Kitab berusaha menolong dengan mengambil alih ransel yang aku bawa. Dan setelah 4 jam perjalanan, kami akhirnya tiba di penginapan di namche. Aku rasa aku mengalami AMS ( altitude mountain sickness).  Tapi aku benar-benar kaget saat aku merasakan ada yang aneh. Saat di depan perapian, aku tidak langsung merasa hangat, malah kegerahan. Saat aku buka jas hujan yang kupakai, ternyata bajuku basah semua...termasuk jaket yang kupakai pun basah karena hujan.....raincoatku ngga water resistant!!!!!! Bagaimana mungkin!!!!!!  Aku marah...aku kecewa...aku sedih....semuanya bercampur aduk saat ini.

Sekarang aku sudah ganti baju, dan merasa kedinginan. Aku sudah menutup tanganku dengan sarung tangan, tapi aku bahkan tidak bisa merasakan jari-jari ku...sampai-sampai harus kuraba satu per satu untuk dimasukkan ke bagian-bagian jari sarung tangan yang tepat. Bukan hanya aku yang menganggap hari ini musibah....Anton juga. Anton terkena AMS. Sekarang kepalanya pusing, dan dia harus istirahat di kamar. Untungnya kami dijadwalkan untuk menginap 2 malam di Namche, demi memberi kesempatan tubuh beraklimatisasi (menyesuaikan diri dengan perubahan ketinggian). Fiuhhhh.....

Senin, 11 Juni 2012

Everest: hari 3


Kami memulai pagi ini dengan sarapan di dalam mobil antaran hotel yang membawa kami menuju airport; roti bakar, 2 telur bulat, buah, dan juice apel....lumayannn...

foto bersama sebelum berangkat ke Lukla
Perjalanan kami dimulai dengan terbang dari khatmandu menuju Lukla dengan pesawat twin otter. Waktu tempuh sekitar 1 jam. Jaman dahulu kala, saat Edmund Hillary memulai ekspedisinya  menuju Everest, perjalanan darat dari Khatmandu menuju Lukla membutuhkan waktu berhari-hari... Aku tidak tau tepatnya...ada berbagai versi yang menyebutkan 7 hingga 14 hari! Yang jelas, medannya sangat sulit. Thank God, kini sudah ada bandara di Lukla yang menghapuskan sebagian dari 'rute edmund' tersebut.

penampakan pegunungan himalaya dari pesawat
Namun bandara lukla adalah bandara yang sangat kecil di ketinggian 2850 m dpl (di atas permukaan laut). Dan....untungnya atau sayangnya, Lukla tercatat sebagai salah satu bandara paling berbahaya di dunia. Panjang landasan pacunya saja hanya 240 m. Itu sebabnya, tidak ada pesawat yang bisa mendarat di lukla, selain pesawat-pesawat kecil dan helikopter. Penerbangan biasanya hanya ada di pagi hari, karena di atas jam 12 siang, cuaca cenderung berubah menjadi mendung atau berkabut. Namun cuaca di pegunungan memang tidak dapat diprediksi. Kami mendengar cerita bahwa pernah terjadi di lukla penuh dengan para pendaki yang ingin pulang ke Khatmandu, namun terhalang oleh cuaca buruk, sehingga mereka menumpuk di Lukla selama seminggu....Uggghhh...semoga itu tidak terjadi pada kami.

Penerbangan menuju lukla tergolong baik. Bagian paling menyenangkan adalah saat melihat lekuk-lekuk pegunungan himalaya dari udara......benar-benar indah! Puncak-puncak bukit dan pegunungan terlihat menonjol diselimuti hijaunya pohon-pohon pinus. Ada ratusan desa dibangun di badan-badan pegunungan; terlihat menyeramkan, namun di saat yang bersamaan, sangat eksotis.. Kami juga melihat puncak2 gunung es dari kejauhan...entah yang mana yang adalah puncak Everest.

bandara Lukla yang sempit dan berbahaya
Namun saat menegangkan terjadi sebelum mendarat. Pesawat kami yang berkapasitas hanya 15 penumpang itu beberapa kali mengurangi ketinggian secara signifikan, sehingga beberapa kali jantung ini rasanya hampir copot saat pesawat bergerak turun....itulah pertanda pesawat akan segera tiba di Lukla. Dan meskipun saat roda pesawat menghantam aspal landasan pacu terasa kasar, namun ternyata pendaratan kami berlangsung mulus dan tidak seseram yang kami bayangkan.....atau setidak-tidaknya nya, tidak seseram yang kubayangkan:)

Dari Lukla, trekking dimulai.... Kami dituntun oleh seorang guide bernama Kitab. Kesan pertamaku, Kitab adalah orang yang ramah. Meskipun bahasa inggrisnya berdialek Nepal, namun mudah dimengerti. Kitab membawa beberapa rekan, salah satunya bernama Purna. Purna tergolong high altitude climber. Itu artinya, purna memiliki spesifikasi skill untuk  menjadi guide juga bagi wisatawan yang ingin mendaki.( tentunya aku tidak tergolong dalam wisatawan tersebut)

Dari Lukla, kami menuju Phakding dengan jarak tempuh 5 jam perjalanan. Aku cukup surprise bahwa jalanan yang kami lalui hanya terdiri dari batu dan tanah dengan ukuran sangat sempit; lebarnya hanya sekitar 1 - 2,5 m. Permukaan jalannya kasar dan naik turun seperti yoyo. Baiklahhhh......setidaknya kini aku mendapat gambaran jalanan seperti apa yang aku lalui hingga 7 hari ke depan.

Ada banyak hal menarik yang aku temui sepanjang jalan menuju Phakding -- lonceng-lonceng, bendera warna- warni, kotoran sapi, tumpukan batu phuja, dan penduduk himalaya sendiri. Sebenarnya aku ingin bercerita sangat banyak....tapi suhu dingin di kamar malam ini sangat mengganggu. Lagipula mata dan tangan ini sudah meminta untuk istirahat. Perjalanan kami besok masih panjang, jadi.....selamat tidur....

Everest: hari 2



saat transit di Thailand


Akhirnya.....pesawat Thai airways yang membawa kami tiba di Khatmandu, Nepal....di sore yang cerah, waktu yang baik untuk berbelanja.

Aku ngga punya bayangan tentang khatmandu sebelumnya. Tapi setelah melihatnya sendiri, aku tidak menduga tenyata ibukota Nepal begituuu.....semerawut! Jalan utama di Khatmandu tidak begitu besar, apalagi jalan-jalan tikusnya.....kecil sekali. Saat pertama datang, kamu akan merasa berjalan di dalam labirin, di antara gedung-gedung ruko yang letaknya berdempetan. Aku yakin, tanpa warga lokal sebagai penunjuk jalan, kamu pasti tersesat! Selain itu, dimana-mana, kabel listrik tergantung tanpa aturan bagaikan benang kusut. Bahkan di beberapa tempat, saking rendahnya posisi kabel tersebut, kamu bisa menggantung leher seorang bule disana...!

penyambutan di bandara Nepal oleh tour-guide kami
Entah mengapa, kota khatmandu sangat berdebu. Mungkin karena sebagian besar bangunannya terbuat dari bata merah. Ada baiknya untuk berjalan-jalan keliling kota sambil memakai masker. Tapi pejalan kaki sedikit ngga nyaman di kota ini, karena kendaraan di jalanan ngga bersahabat; mereka berpindah track sesuka hati, membunyikan klakson dengan kencang, dan rem mendadak. Setelah menaruh tas-tas kami di hotel, kami menyempatkan diri berjalan di daerah thamel yang menjadi pusat perbelanjaan wisatawan. Rasanya tidak ada 1 blok jalan yang dilewati tanpa mendengar bunyi klakson yang panjang. Dan meskipun ada  banyak pernak- pernik di Thamel yang ingin dilihat, tapi sore ini kami fokus untuk mencari perlengkapan yang belum kami miliki untuk trekking besok. Ini adalah hal yang paling menyebalkan...karena kau seperti harus bekerja ekstra. Barang apa pun yang kau siapkan di indonesia tidak akan selengkap yang disediakan bagi para trikker dan climber di khatmandu. Dan jika kau tidak melengkapinya, bersiaplah untuk kedinginan selama hampir sebulan....

aku,anton, dan harry di bandara Nepal
Dan inilah barang-barang ku. Aku membawa 3 tas; 1 duffel dan 2 day bag. Salah satu day bag aku isi penuh dengan makanan; pop mie, buah kering, coklat, dan makanan berserat. Sedangkan di duffel, aku membawa sleeping bag, jaket, raincoat, windbreaker, tongkat, sepatu trekking, beberapa kaos kaki dan baju dalam, celana kertas, baju tidur, topi, kacamata, sun block, pakaian polar, sarung tangan, dan entah apalagi perlengkapan yang akan membungkus badanku seperti astronot di atas gunung sana. Aku juga membawa beberapa barang elektronik untuk pengiriman berita. Jadi bisa kau duga bahwa ekspedisi macam ini, tidak mungkin tidak, pasti over bagasi....

salah satu sudut semerawut khatmandu
Tentu saja, aku tidak akan membawa sendiri semua tas2 itu: p....( membawa diriku sendiri  ke EBC tentunya sudah menjadi perjuangan tersendiri). Kami akan menyewa penduduk lokal untuk menjadi porter barang2 kami. Mereka sering disebut kaum sherpa. Meskipun tidak semua penduduk himalaya berasal dari kaum sherpa, namun sejak orang asing pertama, Edmund Hillary, mencapai everest pada tahun 1953, dengan bantuan seorang sherpa bernama Tenzing Norgey Sherpa, semua penduduk himalaya seakan mendapat julukan "para sherpa" di mata orang asing.

Para sherpa memiliki tubuh yang beradaptasi dengan sangat baik selama turun temurun dengan cuaca dingin dan tipisnya oksigen di pegunungan himalaya. Mereka punya tubuh yang sangat kuat, sehingga mampu mengangkat beban 30-80 kg sambil trekking!!!!! Kalau ada waktu, aku akan menulis cerita lebih banyak tentang kaum sherpa....

Everest: Hari 1

pegunungan himalaya


Mungkin ada banyak temanku yang bertanya2 kok aku mau sih ambil tugas liputan ke himalaya? Hah...jangankan mereka, aku pun bertanya kepada diriku sendiri, bagaimana mungkin dengan cepat aku mengatakan "ya" atas tawaran liputan ke himalaya. Padahal Aku bukan climber ataupun trakker. Klo soal pengalaman mendaki, Aku cuma pernah mencapai monastery di Petra, Yordan (tahun lalu) dan ke Bromo, Jawa Timur (pas SMP). Klo dulu aku pernah meliput di gunung merapi (2010) hampir 1 bulan, itu pun naiknya pake kendaraan..(_ _)

makan malam bersama tim bravo
Terlepas dari minimnya pengalamanku itu, jujur...saat menerima tawaran liputan ini, aku antusias banget.... Ngga banyak lho..orang indonesia bisa ke himalaya sebelumnya (dan sampe sekarang juga, kayaknya jarang yang mau), dan sekarang aku justru dapat kesempatan buat liputan kesana, karena tim seven summit indonesia mau mendaki gunung tertinggi di dunia, everest.....!!!!  Pertanyaan demi pertanyaan selama berminggu2 seperti berebutan memasuki kepalaku.....kira2 himalaya itu seperti apa,ya??? Kira2 aku bisa dapat berita apa aja,ya? Bagiku, liputan pendakian everest punya nilai prestis yang tinggi, baik untuk si pendaki, maupun jurnalisnya sendiri.

Hanya ada 3 jurnalis yang ikut dalam ekspedisi kali ini: aku, anton ( cameraman),dan harry ( anak kompas). Tugas kami adalah menulis perjalanan ekspedisi seven summit yang akan segera berakhir dengan mendaki everest. Sebelumnya, sejak tahun 2010, tim seven summit indonesia telah mencapai 6 gunung tinggi lainnya di 6 negara, seperti cartenz pyramid ( papua), kilimanjaro ( tanzania), elbruz ( rusia), vinson massif (antartika), aconkagua (argentina), dan denali (alaska). Jadi, rencananya, saat kami mecapai everest base camp (EBC) di ketinggian 5300 m dpm, kami akan tinggal disana sampai tim mencapai puncak everest. Diperkirakan tim membutuhkan waktu 7-10 hari untuk berangkat dari EBC- mencapai summit- hingga kembali ke EBC. Selain membuat cerita tentang tim seven summit, kami juga harus membuat paket2 berita softnews tentang negara Nepal dan, tentu saja, kisah menarik mengenai himalaya sepanjang perjalanan menuju EBC yang akan ditempuh dengan berjalan kaki! Jadi, sekarang kau tau kan betapa 'mudah'nya tugas kami.....

tas-tas kami ditimbang di bandara
Tentu saja, lebih daripada tugas2 itu, aku lebih khawatir dengan kondisi fisikku sendiri. Apakah aku sanggup trekking sepanjang jalur pegunungan himalaya menuju EBC? Apakah aku sanggup menghadapi suhu di bawah nol derajad celcius??? Jangankan nol derajad, aku terkadang sengaja mematikan AC saat tidur karena kedinginan. Sebelum berangkat ke Khatmandu, Nepal, banyak  temen2 yang tahu bahwa aku adalah si anak tropis, khawatir apa aku bisa tahan dengan suhu dingin di pegunungan himalaya. Tapi dengan pede nya aku bilang klo aku pasti bisa ( tentu saja...ngomong itu lebih gampang daripada melakukannya:p)

Jadi, jika ada orang yang masih mempertanyakan mengenai tugas liputan ini kembali, Mungkin mereka ngga akan pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan dariku.
Mungkin jawaban terbaik adalah: karena aku mencari pengalaman. Aku tidak pernah berpikir untk menjadi jurnalis seumur hidupku, tapi aku ngga tau kapan aku berpikir untuk berhenti. Jadi, selagi ada kesempatan bagus, aku akan mencoba untuk menjalaninya dan memberikan yang terbaik yang aku bisa. Setidaknya...suatu hari nanti saat aku harus berhenti, aku bisa merasa puas karena tau telah melakukan banyak hal yang tidak banyak orang mampu lakukan pada masa itu....yahh...gitu, deh...

tim bravo
Dan...yeeeyyy...hari ini akhirnya datang juga......Semoga semuanya baik2 aja....God, please help me...(^_^)